Blogroll

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 15 November 2010

CATATAN PERJALANAN

Catatan Perjalanan I

(Jakarta-Jogja)

12 Sept ‘10

Entah sejak kapan batu-batu itu berserakan di sana menutupi bantalan rel. Mungkin salah satunya atau beberapa ada yang setua riwayat kereta api itu sendiri. Stasiun Gambir pukul 07.00 WIB, kereta baru akan berangkat satu jam lagi. Kalau aku tidak dilanda disorientasi arah, sekarang aku sedang menghadap utara, di sana berdiri dengan megah Monumen Nasional, terlihat gagah, meskipun bagiku secara estetika tidak indah. Ia terlihat gendut, tepatlah kiranya Monas menjadi symbol negeri ini, symbol kerakusan pejabat-pejabat korup dan gendut. Sedang emas yang terletak di puncaknya menjadi symbol ketololan. Mempunyai negeri kaya, tetapi kekayaannya justru dinikmati oleh negeri-negeri raksasa nun jauh di sana. Satu-satunya Negara yang menempatkan emas di puncak menara yang menjadi trade mark negaranya justru Negara yang menderita kemiskinan yang demikian akut.

Jika benar aku sedang menghadap kea rah Utara, maka di belakangku adalah Selatan dan gedung yang tepat terletak kira-kira dua ratus meter di belakangku itu pastilah eks gedung School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA), sekolah dokter pertama di Indonesia. Sebuah jejak sejarah dalam pergerakan menuju Indonesia merdeka. Masih dapat kurasakan semangat para calon dokter muda itu yang secara sembunyi-sembunyi di tengah kesibukan dan beban pelajarannya mereka masih menyempatkan diri untuk berdiskusi dan membentuk pergerakan menuju Indonesia merdeka.

07.30 WIB kereta sudah memasuki stasiun Gambir. Ak naik ke dalam kereta dan menaikkan bawaanku ke dalam bagasi di atas tempat dudukku. Aku sangat menikmati perjalanan dengan kereta api karena sabuk besi yang mengalungi bumi Jawa ini juga sarat dengan sejarah perjalanan bangsa ini. Jangan bayangkan rel ini dibangun dengan alat-alat berat seperti di jaman sekarang. Besi rel lintasan dan kayu bantalan dipanggul oleh para pekerja yang tentu saja secara paksa dipekerjakan oleh yang dipertuan. Pada awalnya rel dan kereta api ini hanya diperuntukkan untuk transportasi tebu dan gula yang setiap tahunnya memberi keuntungan jutaan gulden kepada Netherland sebagai Negara induk. Pembangunan jalur kereta api ini penuh dengan kisah pilu dan merupakan kisah genochida yang memakan korban yang tidak sedikit jumlahnya. Pembangunan jalur kereta api ini sama saja kisahnya dengan pembangunan jalan raya pos atau jalan raya daendels yang menghubungkan ujung barat pulau jawa sampai ujung timur pulau Jawa yang peruntukannya hanya untuk mempermudah transportasi dan perpindahan pasukan penjajah untuk memadamkan pemberontakan dan perlawanan di seluruh bumi Jawa. Menyedihkan.

Lengking peluit dan klakson kereta menyadarkan aku dari lamunan akan suatu masa yang telah begitu lama berlalu. Kereta melaju ke Barat Meninggalkan Gambir, Jati Negara, Buaran, Bekasi, Lemah Abang, Karawang. Sampai di sini kembali aku teringat akan pasukan Republik yang semakin hari semakin terdesak kedudukannya karena sweeping yang terus-menerus dilaksanakan oleh pasukan Belanda untuk membersihkan Jakarta. Antara Karawang-Bekasi, beribu kami mati, bunyi sajak Chairil Anwar. Meninggalkan Karawang menuju Tasik terus meluncur menuju Cirebon, aku jatuh ke dalam dekap tidur yang nyaman. Hawa panas diluar tewas oleh tikaman AC yang dingin dan nyaman, tapi membuat kulit kering dan keriput.

Aku terbangun ketika kereta memasuki Purwokerto. Tak ada yang istimewa di kota ini, mungkin karena aku tak pernah mengalami peristiwa apapun di kota ini. Aku kembali tertidur dengan sedikit rasa lega karena kutahu, 3 jam lagi aku akan sampai di Jogja.

Kembali aku terbangun ketika kereta memasuki Kutoarjo, Purworejo, semakin dekat dan aku semakin mengenali petak-petak sawah ini, aku semakin mengenali jalanan, gapura dan semua bangunan ini. Wates, Kulon Progo, lalu perlahan memasuki Jetis. Yah….aku sudah mengenalmu dengan lekat. Sebentar lagi aku akan berkeliaran di atas tanah dan jalananmu, kota kecintaanku.

Kereta berhenti, aku menurunkan bawaanku dan bergegas Turun. Lama sekali aku memandangi Stasiun itu, seakan-akan aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Dia terlihat begitu istimewa, padahal, dulu ketika masih berdiam dan hidup di kota ini, aku tak pernah peduli terhadap keberadaannya.

Keluar dari stasiun Tugu, aku tertegun memandangi Hotel Tugu yang sudah termakan usia. Aku menatap sirene yang dijadikan sebagai pertanda berakhirnya jam malam seperti yang ditetapkan oleh pemerintahan penjajah Belanda yang justru dijadikan oleh laskar rakyat dan tentara Republik sebagai suatu pertanda dimulainya Serangan Umum Satu Maret dan menguasai Jogja selama enam jam sebagai bukti kepada dunia internasional bahwa Republik belum tamat riwayatnya baik secara de facto maupun secara de yure. Untunglah aku bukan seorang penjahat kelamin atau hobbies “Wisata Lendir”, jadi aku langsung menuju rumah seorang teman yang sudah berbaik hati menyatakan kesediaannya untuk menampungku selama aku di Jogja ini tanpa singgah di pasar kembang (flower market/sarkem) yang terletak persis di samping stasiun Tugu Jogja. Kalau di antara kalian ada yang doyan berwisata lender atau “jajan” atau sekedar “numpang celup” silahkan berkunjung ke sana, tapi jangan lupa membawa perlengkapan dan “Helm” untuk keselamatan anda. Harga yang ditawarkan sangat bersahabat, tapi harap maklum karena kelas ekonomi jadi kualitas yang ditawarkan pun hanya seadanya saja, hanya sekedar bisa “ numpang celup” saja.

Pertemuan dengan seorang kawan lama, sungguh, dia tetap cantik dan mempesona, sama seperti permunculannya yang pertama dulu. Begitu rupanya orang cantik, sekali cantik tetap cantik. Hidup cantik!! Hahahahaha. Pernah juga sih hampir nembak dia pakai megaphone, lengkap dengan lagu-lagu perlawanan dan atribut aksi. Heroik kali ya? Tapi mungkin dia akan menganggap aku gila kalau sampai aku benar-benar melakukannya. Hahahahahaha

Jogja…oh…Jogja. Aku kembali berdiri di atas tanahmu dan menghirup udaramu, semoga kali ini aku mendapatkan kekuatan lebih dari yang kuinginkan.

Catatan Perjalanan II

(Jogja-Malang)

18 sept ‘10

Beginikah rasanya Sendiri itu? Gerbong berderit-derit dalam kebisingan yang sia-sia karena tak ada yang sudi mendengarnya secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Gerbong-gerbong besi merayapi rel yang sejak purba mengalungi bumi Jawa Dwipa.

Aku kedinginan, sementara aku tidak tega mengarahkan AC ke arah ibu muda dan anaknya yang masih kecil yang juga sama kedinginan di sebelahku. Aku menghadapai dinginnya AC itu bak pahlawan, dengan duduk yang sengaja digagah-gagahkan dan kadang melempar senyum yang juga sengaja dimanis-maniskan kala ibu muda itu melemparkan senyum yang kutahu pasti tak akan membuat dia rugi karena telah melakukannya. Aku tahu cara memperlakukan wanita dengan hormat.

Sosokmu menari-nari pada pal-pal batu yang setiap sekian detik sekali terlewatkan satu demi satu. Hari sudah pagi ketika aku terbangun, celingak-celinguk ke luar jendela , akhirnya aku tahu bahwa ular besi yang kutumpangi ini sudah memasuki kota Kediri. Aku semakin dekat pada kota yang kutuju. Di belakang, kota yang tadi malam kutinggalkan, yang mendekapmu dalam pelukan tidur yang nyaman semakin jauh kutinggalkan. Lengking panjang peluit di Stasiun Tugu masih lekat di telingaku. Begitu menyayat dan klakson kereta yang membelah heningnya malam pada pukul 23.59 WIB membuat hati semakin rawan. Peron sesak oleh para penjemput dan penghantar. Kulewati semua dengan kesedihan. Para penjemput bersalaman dan berpelukan hangat ketika bertemu dengan orang yang dia nantikan kedatangannya, para penghantar bersalaman dan berpelukan berurai air mata dengan orang yang dia hantarkan keberangkatannya. Aku benar-benar merasa sendirian. Tak ada yang menyalami atau memelukku dengan hangat. Aku merasa sangat sendiri dan kesepian, tiba-tiba.

Kereta terus melaju ke a rah Timur, sekarang sudah memasuki Blitar, kota para pemberani dan “merah”. Sebentar lagi aku akan memasuki kabupaten Malang. Ibu muda yang duduk di sampingku mulai merapikan rambut dan pakaian anaknya yang ternyata adalah anak perempuan, mungkin usianya hampir sama dengan dengan gadis kecilku yang harus kutinggalkan selama sebulan ke depan. Wajah ibu muda itu tampak berseri-seri, dan sekali lagi ia melemparkan senyum manisnya ke arahku. Aku tahu, sesungguhnya ia mau berkata bahwa sebentar lagi ia akan bertemu dengan suaminya yang tercinta, dan ia senang karenanya. Betapa hidup akan begitu nikmat bila memiliki istri yang setia seperti dia. Aku tak menemukan nada genit dan menggoda pada senyum manisnya, tak juga kerling mata.

Hingar-bingar suara dari ruang informasi berbaur dengan keributan manusia yang mempunyai kepentingan berbeda kala aku turun di stasiun Kota Baru, Malang. Lalu-lalang tanpa tegur sapa, lagi-lagi aku merasa sendirian. Tak ada yang menjabat tanganku atau memelukku dengan hangat. Aku sudah sampai di kota yang kutuju, tiga minggu akan kuhabiskan di kota aple ini. Setelah semua ini selesai, aku akan kembali ke Jogja untuk memunguti sisa-sisa masa mudaku yang begitu banyak berceceran di sepanjang jalan Malioboro, Jembatan Sayidan, Alun-alun, jalan Gejayan, Mrican baru…..ah…sepinya.

Catatan Perjalanan III

(Malang-Jogja)

12 Okt ‘10

Gajayana sudah mulai memasuki Stasiun Kota Baru Malang pada pukul 16.00 WIB. Aku naik ke dalam kereta dan menaikkan barang bawaanku ke dalam Bagasi di atas tempat dudukku sesuai dengan yang tertera di dalam tiket. Ada sepasanga suami istri muda yang duduk di tempat dudukku. Si laki-laki langsung berdiri, dia meminta maaf lalu berniat untuk pindah ke bangku yang lain. Lalu aku maklum bahwa hanya salah satu dari mereka yang akan berangkat. “Gak apa-apa mas, santai saja. Silahkan dilanjutkan.” Kataku, lalu beranjak turun, kebetulan aku ingat pesan seorang teman untuk membelikan apel dan aneka keripik khas Malang.

16.25WIB, lima menit lagi kereta akan berangkat. Aku kembali naik ke atas gerbong 7 menuju bangku 10B tempat dudukku. Pasangan muda itu berpelukan tanpa sungkan, lalu cium pipi kiri, cium pipi kanan, lalu si laki-laki berjalan turun setelah mengucapkan selamat jalan kepada istrinya yang cantik. Laki-laki itu mengucapkan terima kasih atas pengertianku memberinya waktu berduaan dengan istrinya yang tercinta. Betapa bahagianya hidup bila memiliki seorang istri cantik dan setia seperti dia. Aku mengangguk kecil dan tersenyum getir karena aku kembali sadar bahwa kali inipun tak ada yang menghantarkan keberangkatanku, tanpa salam hangat atau pelukan yang erat.

Begitu kereta berjalan aku langsung memutuskan untuk jatuh ke dalam pelukan tidur yang jarang kudapatkan belakangan ini, perempuan cantik di sebelahku ini tampak kedinginan, aku tidak berani menawarkan selimutku kepadanya karena aku menghormati suaminya yang bahkan namanya saja tak sempat kutanyakan tadi. Aku menyingkirkan selimut yang masih terbungkus itu ke sampingku, berharap ia meminta ijin untuk memakainya. Ah….kali inipun aku belum juga bisa tertidur, sementara perempuan cantik di sampingku ini sudah lelap begitu dalam dalam buaian mimpi. Kuteliti wajahnya. Dia begitu cantik, putih, hidungnya bangir. Benar-benar cantik bukan buatan, lalu turun ke leher dan terus ke bawah leher. Masyaallah….aku kembali menaikkan pandanganku ke wajahnya, daerah bawah leher itu adalah daerah terlarang untuk kulihat. Hehehehehe. Ternyata, secantik-cantiknya orang, pasti punya sisi jelek juga. Dia tidur dengan mulut yang terbuka lebar. Aku benar-benar tidak bisa menahan tawa melihatnya, lalu aku keluar dari gerbong menuju persambungan antar gebong untuk merokok.

Kulukis wajahmu dengan gumpalan asap rokok berbau laknat, memberi nikmat yang sesaat, sisanya adalah kesumat. Ah…sungguh, seandainya ada obat yang mampu menciptakan Amnesia parsial permanen dan kita dapat menentukan bagian mana dalam kejadian hidup kita yang ingin didelete dan dihapus secara permanen, tentulah aku sudah mengkonsumsi obat itu. Bayangmu menari-nari di petak-petak sawah, hutan pinus dan formasi pebukitan yang kecil mengecil di kiri-kanan jalur kereta.

Tepat pukul 22.00 WIB ada pemeriksaan tiket, aku tidak tahu kereta sudah sampai di mana, dan aku benar-benar tidak mau tahu. Yang kutahu hanyalah bahwa satu jam empat puluh lima menit lagi aku akan sampai di jogja. Ternyata perempuan cantik disebelahku ini juga akan turun di Jogja, hanya dalam waktu kurang dari dua jam kami akan tiba dan turun di Jogja, lalu berpisah menuju arah kami masing-masing tanpa ada jaminan bahwa sutu saat kelak akan ada pertemuan kembali, tapi kami sama-sama tidak tertarik pada perkenalanan yang sesaat. Dia asyik dengan ponselnya, dan akupun begitu, kalau kebetulan saling bersitatap kami hanya saling melempar senyum, lalu kembali asyik mengupdate status dan menjawab beberapa koment. Kami benar-benar enggan untuk saling berbasa-basi.

Kereta sudah sampai di Stasiun Tugu dan perempuan cantik di sebelahku ini masih tertidur pulas, selesai menurunkan semua bawaanku dari bagasi, aku membangunkan perempuan cantik ini dengan menyentuh pundaknya, dia tampak tergagap dan kaget ketika aku melakukan itu dan serta merta dia menyilangkan kedua tangannya di dada. Aku tidak tahu kenapa rata-rata perempuan yang merasa terancam selalu menyilangkan kedua tangannya di dada berusaha untuk melindungi payudaranya? “Mbak, sudah sampai di jogja, dan kereta hanya akan berhenti selama 10 menit. Mbak mau ikut sampai Jakarta?” candaku, lalu aku turun dari atas kereta tanpa pernah menyesal tidak sempat berkenalan dengan perempuan cantik itu.

Seorang teman lama menjemputku dan menyambutku dengan salam hangat. Aih….ini kali pertama aku mendapat sambutan selama perjalanaku ini. hehehehehe. lalu bercerita sampai dinihari ditemani secangkir kopi dan beberapa batang rokok, lalu jatuh ke dalam tidur yang teramat dalam.

Catatan Perjalanan IV

(Jogja-Jakarta)

19 Okt ‘10

Ada banyak cerita di kota yang sangat kucintai ini, pertemuan dengan beberapa orang kawan lama dan beberapa kisah yang memilukan.

Apapun dan bagaimanapun bentuk dan wujudnya, Jogja tetaplah Jogja, meskipun sekarang kearifan, keanggunan, keramahan dan kenyamanannya sedikit demi sedikit tergerus oleh perubahan jaman yang secara perlahan merusak fisik dan jiwa kota ini, dia tetaplah Jogja yang kucintai meskipun tiba-tiba saja aku merasa asing dan belum pernah mengenal kota ini sebelumnya, toh aku telah menghabiskan seperempat usiaku di kota ini.

Kadang aku mengeluh karena warung gulai ayam tempat kami biasa nongkrong ketika masih kuliah dulu sudah berpindah tempat, meskipun hanya berpindah tempat ke sebelah sejauh satu pintu. Gulai ayam warung kerai itu memang masih tetap enak, tapi rasa enaknya sedikit berkurang karena dia tidak lagi berada di tempat yang sama seperti dulu. Ada harga kenangan yang berkurang dan sedikit tereduksi. Kadang juga mengumpat dalam hati bila angkringan pak de Noto di depan secretariat Palawa di samping kampus Mrican tidak buka.

Pukul 23.15 WIB aku pernah nongkrong di sini, di angkringan pak de Noto. Aku heran karena sudah tidak ada lagi tumpukan nasi kucing di atas meja seperti dulu. Karena heran aku bertanya, “Pak de, segonipun sampun telas nggih?”

“Urung mas, isih akeh kok.” Kata pak de Noto lalu membuka tutup termos tempat penyimpanan nasi dan memindahkannya ke dalam piring, lalu ada sayur, telur dadar, lele goreng. Tempat ini begitu bersejarah dalam hidupku, tiba-tiba saja aku merindukan suasana Jogja tempo doeloe. Aku merindukan angkringan dengan tumpukan bungkusan nasi kucing, aneka gorengan, aneka sate murahan, segelas kopi tubruk, sebatang djarum 76 dan obrolan yang hangat, gayeng dan guyub. Sekarang, sepertinya pak de Noto sudah tidak sempat lagi ngobrol dengan para pelanggannya karena sibuk menggorengi telur dan lele. Sungguh, para pendatang yang mendiami Jogja yang sekarang tidak tahu cara menjaga kearifan dan kesucian Jogja, tanpa tabik dan nderek langkung tiba-tiba saja merubah Jogja dengan semaunya dan sekehendaknya sendiri saja.

Banyak hal yang berubah dari Jogja, tapi aku tidak berhak menilai apakah ia berubah kea rah yang lebih baik atau lebih buruk, toh tak akan ada peradaban yang statis. Dia akan terus berkembang mengikuti arus jamannya. Sedih memang melihat Jogja yang seperti ini sekarang, dan jauh di lubuk hati yang paling dalam aku bersyukur, sangat bersyukur pernah hidup dan merasakan atmosfer Jogja di tahun 90’an sampai awal 2000’an. Aku merasa sangat beruntung karena masih sempat merasakan betapa bersahabatnya dan betapa hangatnya Jogja di masa lalu. Tapi sudahlah, toh Jogja sudah berubah, tak perlu terlalu melankolis menyikapinya. Apapun dan bagaimanapun bentuk dan wujudnya sekarang, Jogja tetaplah Jogja, meskipun kelak bila ia harus berganti nama, ia tetaplah Jogjaku, Jogjamu, Jogja kita.

Setelah dua tiket kereta api yang batal dipakai akhirnya aku berangkat juga meninggalkan Jogja tercinta ini menuju Jakarta. Karena keuangan yang muai menipis, aku terpaksa naik kereta api kelas bisnis. Bangun pagi tanpa berpamitan kepada siapapun, aku berangkat sendiri ke Stasiun Tugu. Aku tahu, beberapa orang teman pasti akan marah dengan keputusanku ini karena ada beberapa yang pasti bersedia dan mau mengantarkan aku ke tasiun Tugu jika aku memintanya.

Aku benar-benar sendirian sekarang, di dalam kereta gerah karena kipas angin macet. Tapi aku merasa dingin dan sendirian. Ada airmata yang tak tertahankan ketika kereta bergerak ke Barat meninggalkan Jogja. Masih ada sebertik keraguan dikala “pulang” bukan lagi menjadi sebuah pilihan bijak, di sisi lain, Jogja pun sudah berubah dan bukan lagi menjadi sebuah pilihan yang tepat karena tentu saja kita tidak bisa kembali ke masa lalu dan mencegah semua ini terjadi. Kita tidak berdaya dan tidak mampu melakukan apa-apa untuk membelokkan arah jalannya hidup itu sendiri, bukan? Yah…pasrah akhirnya adalah satu-satunya kesimpulan terbijak yang mampu kubuat pada saat ini. Tentu saja aku sadar akan segala konsekuensinya, toh bernafas pun ada resikonya. Jika “Pulang” nanti aku sudah siap untuk hancur dan lebur di sana. Menamatkan usia dalam rasa sakit, toh inilah jalan takdirku. Amor fati….amorfati….aku harus menerima dan mencintai takdirku, seperti Sisipus dalam mitologi Yunani yang terus saja menggulingkan batu besarnya ke puncak bukit meskipun batu itu tidak akan pernah bergerak ke mana-mana sebagai bentuk pemberontakan dan kecintaannya terhadap takdirnya.

Kereta terus melaju kea rah Barat. Sosokmu terus saja berkelebatan menghajar ingatan. Senyum, tawa, cemberut, meringis, menangis, marah dalam berbagai bentuk dan rupa berlintasan serupa slide show di dalam benakku. Sebatang rokok tak berhasil menindas eksistensimu dari dalam ingatanku. Sewaktu kereta meninggalkan Purwokerto di kiri jalur kereta aku melihat hutan pinus yang lebat. Entah mengapa, butan pinus begitu mempesona dan mengingatkan aku pada suatu malam di tahun 2001. Setiap kali melintas atau sekedar melihat hutan pinus pikiran dan perasaanku terbang kembali ke masa itu, seorang perempuan cantik tapi kurus saling berbagi kekuatan denganku lewat genggam erat telapak tangan menyusuri hutan pinus, dan jalan setapak yang licin dan gelap. Betapa aku merasa beruntung pernah diberi kesempatan untuk berkenalan dan jatuh cinta kepadanya, meskipun takdir dan waktu tak pernah berpihak kepadaku. Toh, tidak semua hal yang kita inginkan bisa kita dapatkan.

Kereta terus Melaju ke arah Barat, semakin jauh meninggalkan Jogja yang tentu saja tak pernah merasa kehilangan atas kepergianku. Getir, sementara aku terus saja merasa terluka mengetahui kenyataan bahwa Jogja bukanlah Jogja yang sama dengan Jogja yang pernah kukenal dulu. Kali ini aku tidak mau terlelap dan tidur. Aku ingin menikmati setiap detik dan setiap jengkal perpisahan ini. Ah…sudahlah. Tak perlu secengeng ini.

Memasuki Karawang, Lemah Abang, Buaran, Jati Negara. Aku turun di stasiun ini, membawa semua barang bawaanku yang terasa semakin berat oleh semua cerita yang kali ini mau tidak mau harus kusebut “Kenangan”. Tas kamera menyilang di pundakku, ransel menggelayut manja di punggungku dan sebuah travelling bag beroda kuseret dengan sejuta kenangan itu.

Tadi pagi aku berangkat ke Stasiun Tugu, dan kau berangkat ke kantor, sebentar lagi kau mungkin akan pulang kerumah dan aku sudah sampai di Jakarta, mungkin dalam beberapa hari lagi aku sudah tiba di medan, lalu menempuh perjalanan 1.5 jam menuju Berastagi. Betapa cepat hidup berpindah dan berlalu, lalu kita sadar bahwa kita belum beranjak ke mana-mana dan belum berhasil menjadi siapa-siapa.

Aku akan pulang, meskipun “pulang”: bukanlah sebuah pilihan bijak mengingat semua yang terjadi belakangan ini. Ya aku berani menanggung semua akibatnya. Padove ti puerta il cuore, pergilah ke mana hati membawamu, itu hal yang sangat mudah untuk kulakukan pada saat ini, tinggal kembali ke Jogja saja. Tapi, maaf untukmu orang Italia yang sok bijak menciptakan kata-kata bijaksana ini, aku akan pergi ke arah yang berlawanana dengan kehendak hatiku. Aku akan kembali ke pelukan dia yang telah kupilih dengan sadar untuk menemami hatiku merenangi genangan hidup yang keruh ini. Ya, aku tetap berani mengatakan ”ya” terhadap panggilan takdirku. Dan Kau, aku menantangmu. Baiklah aku akan bertahan dan kembali pulang. Akan kulihat batas kemampuanmu, sampai kapan kau akan sanggup merajut temali dalam diam dan mendekapku dengan belati yang kau selipkan di balik punggungmu. Jogja telah memberiku kekuatan yang lebih dari yang kubutuhkan. Tikam…o…tikamlah aku. Kita akan lihat siapa yang akan bertahan sampai akhir nanti.

Jakarta yang panas dan ganas….adakah kau segarang dan sekeras kepala pendirianku? Kita akan lihat dalam beberapa hari ke depan.

Jumat, 01 Januari 2010

Membangun Kekuatan Ekonomi Melalui Konsep Wawasan Kebangsaan

Perusahaan minyak raksasa di beberapa Negara di dunia telah menjadikan 3,5 miliar rakyat di Negara pemilik sumberdaya mineral tersebut justru melarat. Negara maju hanya menginginkan Negara berkembang membuka pasar bagi produk-produk mereka, sementara di sisi lain mereka menutup pasar mereka dari komoditas andalan Negara-negara berkembang.”

Dalam pertemuan World Trade Organisation (WTO) tahun 2003 di Cancun, Mexico, Negara-negara maju bersikeras untuk mempertahankan politik proteksionismenya. Bersamaan dengan itu, mereka menuntut supaya Negara-negara dunia ketiga membuka lebar-lebar pasar dalam negeri bagi produksi pangan negeri-negeri imperialis yang berlebihan, dengan harga lebih murah dari pada produksi dalam negeri. Tentu saja hal itu telah menghancurkan kehidupan kaum tani di negeri-negeri berkembang.
Beberapa bulan yang lalu, saya terkejut membaca status salah seorang teman kuliah dulu di facebook, dia menulis seperti ini, “Baru tahu saya, ternyata laut Indonesia sudah tidak asin lagi, pemerintah telah mengimpor garam senilai 900 Miliar Rupiah.” Sepintas lalu, tulisan itu terkesan ringan dan agak berolok-olok tapi sesungguhnya bisa menjadi masalah yang sangat serius dan berdampak buruk bagi kehidupan nasional. Kita perlu tahu bahwa pabrik gula di dalam negeri telah ambruk oleh kebijakan pemerintah yang mengimpor gula dari Thailand, petani tebu dalam negeri gulung tikar. Tindakan mengimpor produk yang sebenarnya diproduksi oleh produsen dalam negeri bukanlah tindakan yang bijaksana, karena tindakan tersebut berakibat pada menumpuknya kapital di luar negeri, bila kapital menumpuk, maka akan diupayakan peningkatan jumlah produksi. Ada dua cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan jumlah produksi, yang pertama adalah menambah jam kerja dan menaikkan gaji karyawan, dan yang kedua adalah ekspansi atau perluasan perusahaan yang artinya membuka kesempatan kerja terhadap tenaga kerja usia produktif yang masih menganggur. Kenaikan upah bagi para karyawan dan penambahan insentif dari penambahan jam kerja (lembur) serta terbukanya kesempatan kerja akan membawa sebuah konsekuensi logis, yaitu naiknya tingkat kemakmuran. Dampak dari naiknya tingkat kemakmuran itu adalah meningkatnya daya beli rakyat, bila daya beli rakyat naik, maka beban Negara berupa subsidi untuk beberapa komoditi dapat diminimalisir. Ibarat pedang bermata dua. Tindakan mengimpor barang yang sesungguhnya diproduksi oleh produsen dalam negeri akan berdampak positif bagi Negara pengekspor dan di sisi lain berdampak buruk terhadap produsen dalam negeri dan mempersempit kesempatan kerja terhadap tenaga kerja usia produktif di dalam negeri, sehingga tidak heran bila arus tenaga kerja Indonesia untuk mengais rejeki di negeri orang terus mengalir dan bertambah dari tahun ke tahun.
Regulasi dan mekanisme pasar dunia yang diatur oleh lembaga-lembaga imperialis internasional di jaman modern ini sama saja polanya seperti di jaman kolonial. Dimasa pendudukan Belanda, sebagian besar Pulau Jawa disulap menjadi ladang tebu raksasa yang luar biasa luasnya. Rakyat dipaksa menyewakan tanah mereka kepada pihak perkebunan (VOC) dan mereka didaulat menjadi buruh di atas tanah milik mereka sendiri. Ada sebuah system yang memaksa rakyat untuk tunduk terhadap kemauan pemerintah colonial. Rakyat yang membangkang, tidak mau menyewakan tanahnya kepada pihak perkebunan akan mendapat tekanan dari penguasa local. Rakyat yang membangkang akan dikenai pajak (upeti) yang tinggi, melebihi hasil panennya. Bila si petani sudah tidak sanggup lagi membayarkan upeti maka lahan pertaniannya akan diambil secara paksa, atau dipaksa menandatangani perjanjian kontrak dengan pihak perkebunan. Pabrik-pabrik gula di pulau jawa tersebut menghasilkan keuntungan jutaan Gulden bagi Negara Belanda. Dari dulu hingga sekarang, Negara-negara maju menempatkan Negara-negara dunia ketiga sebagai basis untuk mendapatkan sumber bahan mentah dan tenaga kerja yang murah serta sebagai basis pasar yang cukup potensial untuk memasarkan produk-produk mereka.
Negara-negara maju terus saja menyalurkan bantuan ekonomi kepada Negara-negara berkembang, akan tetapi, rakyat di Negara-negara dunia ketiga tidak akan bias mengembangkan ekonomi nasional mereka dengan menerima segala bentuk bantuan ekonomi tersebut, karena bantuan yang disalurkan melalui lembaga-lembaga imperialis seperti World Bank, International Monetery Fund, dan lain sebagainya, hakekatnya hanya mempunyai satu tujuan, yaitu mengembalikan hutang dan bunganya, yang sebetulnya sampai kapanpun tidak akan pernah bias terlunasi.
Pinjaman atau bantuan itu hanya ditujukan untuk membangun jalan, membangun jembatan, membangun hotel-hotel untuk pariwisata, membangun gedung-gedung megah, artinya bukan untuk proyek-proyek produktif dan mempunyai andil terhadap kemajuan dan perkembvangan ekonomi nasional. Di samping itu, bantuan tidak akan pernah diberikan tanpa syarat atau ikatan baik ikatan politik maupun ekonomi yang pada hakekatnya selalu menguntungkan Negara-negara imperialis. Singkatnya, dibalik pemberian bantuan ekonomi tersebut, selalu terselip pesan ideology dari lembaga pemberi bantuan tersebut. Sudah bisa dipastikan bahwa mereka tidak akan menggunakan uangnya untuk mendidik calon-calon pemikir dan pengkritik politik ekonomi dan kebijakan moneter maupun fiskal yang sedang dan akan diparktikkan oleh World Bank, International Monetery Fund (IMF), World Trade Organisation (WTO).
2010 sudah tinggal hitungan bulan saja. Bila saat itu tiba, siap tidak siap kita harus menyambut kedatangan era perdagangan bebas. Saat itu pajak ataupun bea masuk barang-barang impor adalah 0%. Artinya semua barang-barang impor yang selama ini dikenakan bea masuk sebesar 20% akan dibebaskan dari kutipan apapun. Pada era perdagangan bebas itu nanti, pemerintah tidak akan dapat melakukan apapun untuk memproteksi produsen dalam negeri yang selama ini dilakukan dengan pembatasan quota barang-barang import dan mengenakan bea masuk sebesar 20%. Mungkinkah Negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia mencapai tingkat perkembangan ekonomi yang akan mengubahnya menjadi macan industru baru dan memberinya satu taraf hidup setara dengan rakyat di Eropa Barat sana melalui jalan kapitalisme? Satu pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin saya jawab karena jawaban pastinya adalah tidak.
Satu-satunya jalan yang memungkinkan Negara-negara dunia ketiga lepas dari jeratan kaum imperialis adalah meningkatkan produksi nasional untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Rayat di Negara-negara berkembang harus belajar untuk memproduksi segala macam kebutuhan, termasuk yang bersifat primer, sekunder maupun tersier. Saya pernah berandai-andai, apa yang akan terjadi bila rakyat dan pemerintah hanya membeli produksi dalam negeri dan hanya membeli produk impor yang produk sejenisnya tidak dihasilkan oleh produsen dalam negeri. Berapa juta tenaga kerja usia produktif yang dapat dipekerjakan, sehingga arus pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Negara lain bisa diminimalisir. Sudah begitu hambarkah air laut Indonesia sehingga pemerintah merasa perlu untuk mengimpor garam senilai 900 miliar Rupiah? Sudah begitu rendahnyakah kandungan Vitamin C jeruk Indonesia sehingga orang-orang merasa perlu untuk membeli jeruk hongkong? Sudah begitu busuknyakah apel batu, Malang sehingga kita terus saja membeli Red Delicious?
Menurut saya, hal yang paling mendasar yang harus dilakukan untuk keluar dari segala krisis yang disebabkan oleh lembaga dan Negara-negara imperialis tersebut adalah reindoktrinasi wawasan kebangsaan. Wawasan kebangsaan sekilas pandang hampir sama dengan wawasan Nusantara, tapi pada dasarnya sangat berbeda. Wawasan Nusantara ciptaan rejim Militeris-fasis Soeharto menitik beratkan tujuannya kepada keutuhan wilayah. Cara apapun akan ditempuh, termasuk jalan kekerasan seperti yang dipraktikkan pada tahun 1965-1998 untuk mempertahankan keutuhan wilayah Indonesia, sementara wawasan kebangsaan lebih menitikberatkan tujuannya pada kesatuan ide, kesatuan tujuan, kesatuan tekad, kesatuan rasa bahwa kita adalah satu, Indonesia. Wawasan kebangsaan bergerak untuk memperbaharui mental dan menciptakan manusia-manusia patriot yang mau melakukan apapun demi kemajuan Negara. Inilah masalah terbesar negeri ini. Praktik kapitalisme dan serangan pasar yang gila-gilaan telah membuat rakyat Indonesia cenderung bersifat konsumeris, individualis dan apatis.
Melalui konsep wawasan kebangsaan tersebut, maka rakyat Indonesia akan kembali tumbuh kecintaanya terhadap segala hal yang berbau keindonesiaan. Bila sudah tumbuh kecintaan terhadap segala hal yang berbau keindonesiaan kita akan mempercepat produksi dalam negeri dan berusaha untuk memproduksi sendiri segala macam kebutuhan hidup dan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap produk impor yang nyata-nyata telah membunuh produksi dalam negeri dan menutup rapat-rapat kesempatan kerja bagi tenaga kerja usia produktif. Jadi, kalau ada semacam anggapan bahwa kecintaan terhadap Negara tidak akan berdampak apa-apa terhadap produksi dalam negeri dan tidak mempunyai andil dalam peningkatan tingkat pendapatan rakyat, maka inilah antitesis dari anggapan yang tersebut itu.
Tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga telah memanggil saya untuk kembali ke dunia kerja. Seorang klien datang dengan konsep-konsep advertisingnya meminta saya untuk membuatkan desain brosur dan pamphlet. Maaf, saya harus mengakhiri tulisan yang masih kurang sempurna ini. Salam.

Sabtu, 05 September 2009

Membaca Gelagat di Balik Provokasi Malaysia

Sejak awal berdirinya Negara Malaysia sudah membuat gerah dan panas hati Presiden Soekarno dan rakyat Indonesia. Karena proses perundingan mengenai batas-batas wilayah sedang berlangsung dan Pemimpin Malaysia dengan Presiden Soekarno pun telah sepakat bahwa sebelum perundingan mengenai batas wilayah tersebut disepakati maka Malaysia belum akan memerdekakan diri.

Tapi, perjanjian tinggallah perjanjian, nyatanya Malaysia di bawah pengaruh dan desakan Inggris tetap menyatakan kemerdekaannya meskipun batas-batas territorial belum selesai dibicarakan. Inggris-Amerika tampaknya semakin khawatir dengan perkembangan Partai Komunis Indonesia yang kian hari semakin besar dan luas pengaruhnya belum lagi soal isu adanya poros Moskow-Peking-Jakarta yang menempatkan Indonesia sebagai wilayah strategis penyebaran ideologi komunisme di Asia Tenggara. Vietnam, Kamboja dan sebagian Myanmar pun telah secara terang-terangan menyatakan kiblatnya ke arah blok Timur. Melihat perkembangan yang semakin tidak menguntungkan bagi blok Barat, maka Inggris sebagai penjajah Malaya dan Amerika sebagai sekutunya merasa perlu untuk segera memerdekakan Malaysia mengingat jarak geografis yang begitu dekat dengan Indonesia yang sedikit demi sedikit cenderung kearah KIRI. Malaysia, letaknya begitu strategis, menjadi jalur transportasi laut yang utama menuju Asia tenggara. Pemerdekaan Malaysia oleh Inggris adalah langkah yang paling strategis dan mendesak untuk dilaksanakan, untuk kemudian dijadikan sebagai Negara satelit blok Barat guna memantau perkembangan di Indonesia sekaligus dijadikan basis perlawanan terhadap penyebaran ideology komunisme dari Indonesia ke Negara-negara Asia Tenggara lainnya, maupun dari negeri Tiongkok sana.

Presiden Soekarno merasa gerah karena pemimpin Malaysia melanggar perjanjian yang sudah disepakati akhirnya mengeluarkan kebijakan ganyang Malaysia yang berujung pada dikeluarkannya Indonesia dari keanggotaan PBB yang berdampak pada melemahnya posisi tawar dan loby-loby politik Indonesia di tingkat internasional. Malaysia memainkan peran Penting seperti yang diharapkan oleh Inggris dan sekutu-sekutunya yaitu untuk menyibukkan Indonesia dengan kemarahannya terhadap Malaysia, dengan begitu masalah penyebaran ideology komunisme di wilayah Indonesia bisa ditunda untuk beberapa saat lamanya. Dampaknya begitu luas. Terjadi perpecahan di tubuh angkatan perang, karena sebagian besar petinggi angkatan perang tidak setuju untuk mengganyang Malaysia karena mereka insyaf di belakang Malaysia berdiri pasukan Inggris yang bukan main perkasanya di lautan. Begitu Malaysia diserang, maka mereka akan mempunyai alasan untuk memborbandir dan meluluh lantakkan Indonesia. Tapi PKI mendukung kebijakan ganyang Malaysia tersebut. Maka Konflik yang semula hanya terjadi di tubuh angkatan perang meluas menjadi sentimen antara angkatan perang, terutama Angkatan Darat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Apalagi ketika PKI menuduh bahwa Angkatan Darat berperang dengan setengah hati di pulau Borneo. Inilah cikal bakal konflik antara Angkatan Darat dengan PKI yang mencapai puncaknya pada September 1965. Malaysia sebagai Negara satelit Blok Barat berhasil memainkan perannya secara gilang gemilang untuk membendung meluasnya pengaruh komunisme di Asia Tenggara, khusunya di Indonesia. Lalu, Amerika dan Inggris mulai memainkan perannya secara langsung ke Indonesia untuk menghancurkan faham komunisme dengan memfasilitasi penumpasan sisa-sisa anggota PKI yang memakan korban jiwa hampir satu juta massa. Soeharto dan Angkatan Darat mengklaim Bahwa gerakan ataupun pembantain terhadap anggota PKI tersebut murni sebagai sebuah tindakan spontanitas rakyat yang marah atas Cup d etat dan pembunuhan sadis yang dilakukan oleh PKI. Tapi, marilah kita lihat ke belakang. Apakah mungkin tindakan pembantain itu dapat dikatakan benar-benar bersifat spontan mengingat pembantaian terhadap anggota PKI di Jawa Tengah Berlangsung selama Bulan Oktober 1965, Di Jawa Timur November 1965, dan di Bali Desember 1965. Pembantaian yang berlangsung selama tiga bulan tersebut memunculkan sebuah dugaan bahwa aksi pembantaian tersebut difasilitasi dan dimobilisasi secara terencana, dan pelakunya tetap sama, baik yang melakukan pembantaian di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali orangnya ya itu-itu saja.

Soeharto sangat anti dengan komunis, bukan komunisme sebagai ideology, tetapi komunis sebagai sebuah partai yang mempunyai massa dan pengaruh yang begitu besarnya, apalagi setelah munculnya wacana untuk mempersenjatai kaum tani sebagai angkatan ke-lima sebagai pasukan cadangan yang akan dipersiapkan untuk mengganyang Malaysia jelas-jelas memperlemah posisi Angkatan Darat. Apalagi Presiden Soekarno pun terang-terangan mengecam sikap pengecut Angkatan Darat dan memberikan simpati kepada PKI yang mendukung kebijakan ganyang Malaysia tersebut. Saya tidak bermaksud untuk membongkar tragedi berdarah 1965, siapa pelakunya dan apa tujuannya, karena begitu gelap misteri seputar tragedi berdarah itu. Tapi, satu hal yang menurut saya menarik untuk dicermati adalah. Pasca naiknya Soeharto menjadi Presiden ke-dua Republik Indonesia, Union Texas Oil, Caltex dan PT. Freeport Indonesia berdiri dengan megahnya untuk menghisapi sumber daya mineral negeri ini. Lalu, belasan perusahaan asing berlomba-lomba menancapkan tentakel raksasanya dan dengan rakus menghisapi kekayaan sumber daya alam kita. Sebuah pertanyaan spekulatif coba saya lontarkan. Mengapa perusahaan pertambangan raksasa itu tumbuh seperti jamur di musim hujan ketika Soekarno baru saja lengser dari singgasana kepresidenan? Sungguh, di Indonesia, tahun 1965 adalah titik balik kemenangan kapital dan bedil.

Provokasi Malaysia di masa lalu telah berhasil membuat Indonesia dikeluarkan dari anggota PBB, melemahkan posisi tawar dan loby-loby politik Indonesia di tingkat internasional, memecah belah dan menimbulkan kecurigaan di tubuh angkatan perang, angkatan perang dengan PKI dan angkatan perang dengan presiden selaku panglima tertinggi angkatan perang. Provokasi Malaysia di masa lalu telah berhasil melengserkan presiden Soekarno dari kursi kepresidenan dan mengangkat Soeharto menjadi presiden kedua Republik Indonesia, mendorong berdirinya perusahaan pertambangan asing yang pada akhirnya menyebabkan penderitaan bagi jutaan rakyat Indonesia.

Kita perlu mencermati, ada apa di balik provokasi Malaysia yang sudah beberapa kali terjadi belakangan ini, dari klaim-mengklaim wilayah, kebudayaan, sampai pada mengklaim kesenian kita. Baru saja Malaysia meminta maaf karena mengklaim blok ambalat masuk ke dalam wilayah territorial mereka, mereka mulai lagi mengklaim tari pendet. Baru saja Malaysia meminta maaf karena telah mengklaim tari pendet, sekarang mereka mengklaim pulau jemur di kepulauan Riau masuk ke dalam wilayah mereka. Ingat kasus Sipadan-Ligitan. Bila jalan yang ditempuh untuk menyelesaikan sengketa ini adalah dengan berunding. Ingat-ingatlah ini. Konferensi Linggar jati yang membahas batas garis demarkasi berakhir dengan menyempitnya wilayah teritori Republik, Konferensi Meja Bundar berakhir dengan segala hutang luar negeri Negara Hindia Belanda menjadi hutang luar negeri Republik Indonesia Serikat, Perundingan mengenai batas wilayah dengan Malaysia berakhir dengan lepasnya pulau sipadan dan ligitan dari pangkuan bumi pertiwi. Perundingan haruslah dijadikan sebagai jalan yang tidak akan pernah ditempuh dalam menyelesaikan konflik dengan Malaysia.

Apa tujuan provokasi Malaysia kali ini? Jikalau yang dijadikan sebagai sasaran adalah untuk melengserkan SBY, tidak mungkin karena Presiden kita ini dekat dengan Amerika-Inggris, bahkan Partai yang dia pimpin saja sama dengan partai penguasa di negeri paman Sam sana. Jika yang dijadikan sasaran adalah sumber daya mineral, tidak mungkin juga karena sumber daya mineral kita sudah habis dihisapi Union Texas Oil, CALTEX, Pt. Freeport Indonesia dan lain-lainnya itu. Jangan bilang tidak. Pasti ada. Pasti ada beberapa hal yang menjadi tujuan dibalik peristiwa provokasi Malaysia ini. Dan, apapun tujuan itu, pastilah berbicara tentang kepentingan Inggris-Amerika dan sekutu-sekutunya.Ditengah klaim-mengklaim yang sedang gencar-gencarnya dilancarkan Malaysia, pemimpin Negara ini, Presiden Republik Indonesia justru rebut-ribut dengan kebijakan politiknya, sibuk membela namanya dari cemoohan rakyatnya sendiri, sibuk dengan kasus-kasus manipulatif untuk membingungkan rakyatnya sendiri. Malah belakangan muncul wacana untuk membuat undang-undang kerahasiaan Negara. Untuk apa??!! Negara kita telah diinjak-injak kedaulatannya oleh Malaysia. Mengapa masih saja sibuk mengurusi partai, mengurusi penunjukan ketua DPR yang seharusnya menjadi hak mutlak lembaga legislative. Pemerintah, dalam hal ini sama sekali tidak jeli dalam menanggapi dan mencermati motif provokasi Malaysia kali ini. Tetap saja mengedepankan jalan diplomasi. Saya tekankan sekali lagi. Diplomasi adalah satu-satunya jalan yang tidak boleh ditempuh untuk menyelesaikan konflik dengan Malaysia yang telah berulang kali menginjak-injak kedaulatan Republik ini. Inggris-Amerika pasti ada dibelakang mereka. Tapi, takutkah kita? Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup tanpa kehormatan dan kedaulatan. Rakyat bertanya. Berapa Anggaran pemerintah untuk pendidikan? 20 % kata pemerintah. Itu kan data statistik. Rakyat bertanya lagi, berapa dana APBN? Dan berapa dialokasikan untuk dunia pendidikan? Berapa untuk bidang kesehatan? Tapi saya tidak bertanya seperti itu. Saya bertanya, berapa milyar dana yang dikeluarkan pemerintah untuk AKMIL, AAU, AAL, AKPOL? Uang yang begitu banyak dihabiskan hanya untuk menciptakan prajurit karir yang hanya tahu soal jabatan dan tempat duduk dibalik meja tapi tanpa nasionalisme dan sikap patriotisme. Kita harus dapat bertindak dengan cepat dan tepat untuk mengetahui apa gerangan motif dari provokasi Malaysia kali ini.

Minggu, 16 Agustus 2009


REFLEKSI KEMERDEKAAN
Feri Suranta Ginting*
Tadi siang, ketika saya berangkat ke warnet untuk menyelesaikan tulisan ini, saya melihat seorang bocah laki-laki berlari-lari di tengah hujan lebat. Bocah itu tidak mengenakan selembar pakaian pun di tubuhnya yang ringkih. Di tangan kirinya dia memegang 1 sachet shampoo. Dia berlari-lari kian kemari dengan riangnya. Hampir di setiap pancuran talang air dia berhenti sejenak, membiarkan tubuhnya dibasahi oleh air hujan yang mungkin akan membuatnya demam nantinya. Dia begitu gembira bermandikan air hujan, dia merasa lepas dan bebas, aku dapat merasakan kegembiraan yang teramat sangat dari sorot matanya yang jenaka dan senyum lebar pada bibirnya. Begitu gembiranya si bocah yang telanjang bermandikan air hujan itu, hingga dia lupa akan hukuman apa yang akan dia dapatkan nanti bila kedua orang tuanya mengetahui perbuatan yang sedang ia lakukan sekarang ini. Mungkin si bocah akan mendapatkan 2 sampai 3 pukulan rotan pada betisnya. Ia tidak peduli, yang ada dikepalanya saat ini hanyalah kebahagiaan dan kebebasan yang jarang ia dapatkan.
16 Agustus 2009, besok, ya besok pagi kita akan merayakan hari kemerdekaan kita yang ke-64 kalinya. Sudah sejauh itu perjalanan Negara-Bangsa ini dalam udara kemerdekaan. Tadi Pagi salah seorang teman menuliskan bahwa PROKLAMASI KEMERDEKAAN 17 08 1945 TIDAK LEBIH DARI SEREMONI "PEMINDAHAN KEKUASAAN" BELAKA. Mungkin yang dimaksud oleh kawan itu adalah bahwa peristiwa proklamasi 1945 itu hanyalah pemindahan tangan kekuasaan dari kolonialis dan borjuasi asing kepada borjuasi nasional yang pada prinsipnya sama saja ganas dan rakusnya dengan penguasa kolonial. Sebagian kelompok lagi memaknai bahwa kemerdekaan yang kita raih ini adalah buah dari perjuangan dan bukan hadiah dari bangsa manapun. Saya tidak mau terjebak dalam polemik dan perdebatan semacam itu. Terserah, bagaimanapun kita memaknai Proklamasi kemerdekaan tersebut. Saya hanya ingin mengkaji makna "MERDEKA" itu sendiri.
Proklamasi kemerdekaan 1945 (Terlepas dari bagaimana cara kita memaknainya) adalah sebuah pijakan awal dalam perjalanan Bangsa ini. Pada paragraph awal tulisan ini saya bercerita tentang seorang bocah laki-laki yang bebas berlarian mandi air hujan, tak ada yang melarang, tidak ada yang mengekang. Begitu bebas dan bahagianya sibocah itu. Tidak usah terlalu akademis dan tinggi obrolan tentang makna Merdeka itu, kita maknai saja secara sederhana dan ringan. Menurut saya, dan mungkin menurut semua manusia yang berpikir merdeka itu pastilah berbicara tentang kebebasan, tanpa kekangan, tanpa campur tangan dan intervensi pihak asing. Sebuah Negara dapat dikatakan merdeka bila Negara tersebut sudah berhak menentukan arah kebijakan dan mengatur rumah tangganya sendiri baik yang menyangkut tentang kebijaksanaan politik dalam negeri dan pergaulan internasionalnya.
Sejak berdirinya Bangsa-Negara ini sebagai sebuah Negara yang berdaulat, kita tidak pernah lepas dari intervensi dan campur tangan pihak asing. 3 tahun sejak peristiwa Proklamasi kemerdekaan, tepatnya Desember 1948, Belanda kembali melancarkan Agresi Militernya untuk merongrong kedaulatan Republik tercinta ini. Pasca Konfrensi Meja Bundar yang difasilitasi Amerika konflik antara Indonesia dan Belanda mereda dengan satu kerugian besar dipihak kita, karena salah satu butir konfrensi meja bundar adalah bahwa seluruh hutang luar negeri Negara Hindia Belanda ditanggung oleh Republik Indonesia serikat. Lalu, Amerika dengan cerdik memanfaatkan ketidak puasan beberapa petinggi militer di daerah yang kecewa terhadap para petinggi militer di Ibu Kota (baca : Pulau Jawa), Amerika memfassilitasi para petinggi militer di daerah-daerah untuk melancarkan pemberontakan. Karena menurut logika mereka lebih baik Indonesia tercerai-berai dan hancur tapi mereka mendapatkan sedikit wilayah yang berpihak kepada blok barat. Mereka agaknya trauma dengan kejadian di China sana, mereka tetap ingin mempertahankan keutuhan China. Mereka memang berhasil mempertahankan keutuhan wilayah China, tapi kemudian China malah berpihak ke blok timurnya Soviet. Seandainya mereka memfasilitasi perjuangan Sun Yat Sen mungkin China akan terbelah menjadi dua bagian, seperti yang terjadi atas Seoul dan Pyong yang. Belum Lagi kasus pemberontakan petinggi militer di daerah berhasil dipadamkam, Inggris pun tidak ketinggalan memprovokasi Republik tercinta ini dengan Memerdekakan Malaya (Malaysia) yang menurut Soekarno masih merupakan wilayah kedaulatan Indonesia. Presiden Soekarno marah dan mengeluarkan kebijakan ganyang Malaysia. Kembali, perpecahan di tubuh militer terjadi, Sebagian besar petinggi angkatan perang tidak setuju untuk mengganyang Malaysia, karena mereka insyaf bahwa militer kita pasti akan berhadapan dengan armada perang Inggris yang bukan main perkasanya di lautan. Soekarno kecewa dengan sifat pengecut para petinggi angkatan perangnya, maka mulailah Soekarno mendekati PKI partai yang memiliki massa paling besar pada masa itu, kebetulan PKI pada saat itu tengah terjepit posisinya. PKI mendukung kebijakan Ganyang Malaysia. Akibat kebijakan tersebut Republik Indonesia dikeluarkan dari PBB, tentu hal ini akan berdampak pada melemahnya posisi tawar dan loby-loby kita di tingkat internasional.
Pasca Krisis Moneter 1998, lembaga moneter internasional (Internatinal Monetery Fund, World Bank, Asian Development Bank) semakin dalam mengintervensi kebijakan-kebijakan penguasa lokal (presiden) bukan hanya mengintervensi kebijakan yang berhubungan dengan kebijakan fiscal dan moneter, tapi juga menjalar kebidang-bidang yang lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan fiscal dan moneter. Wajar memang, mereka telah menyalurkan bantuan yang jumlahnya tidak sedikit, maka intervensi kebijakan tersebut dianggap sebagai balas jasa yang setimpal.
Dari Intervensi asing kita beralih kepada penguasa lokal. Di negeri yang sudah mencecap alam kemerdekaan 64 tahun lamanya ini rakyat demikian tidak berdayanya. Segala keputusan atau kebijakan dan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh penguasa sama sekali tidak pernah berpihak kepada rakyat kecil. Undang-undang ketenagakerjaan yang seharusnya berpihak kepada para buruh justru berpihak kepada para penyelenggara kerja (artinya pemilik modal, pemilik pabrik, pemilik perusahaan), Undang-undang pendidikan yang seharusnya berpihak kepada para peserta didik (Baca: Siswa dan Mahasiswa) malah berpihak kepada lembaga / institusi penyelenggara pendidikan (Baca : Yayasan), Undang-undang pertanian yang semestinya berpihak kepada para petani dan buruh tani malah berpihak kepada pihak perkebunan yang membawa kita kembali kepada model-model penjajahan. Rakyat yang seharusnya dilibatkan di dalam proses pembuatan keputusan karena merekalah obyek yang paling merasakan dampak dari kebijakan tersebut justru ditempatkan di wilayah yang paling marginal.
Sudah 64 tahun kita merdeka (katanya) tapi mengapa selalu saja kita belum bisa lepas dan bebas dari campur tangan asing yang memegang rotan di tangan kanannya untuk melibas betis kita, yang tidak akan pernah membiarkan kita bebas menentukan arah kebijakan dan mengatur rumah tangga kita sendiri sebebas bocah laki-laki yang begitu lepasnya mandi air hujan.
Agaknya, pendapat seorang teman yang menuliskan bahwa proklamasi kemerdekaan 1945 hanyalah sebuah prosesi pemindatangan kekuasaan dari penguasa kolonial kepada para penguasa pribumi yang sama saja ganas dan rakusnya dengan penguasa kolonial dan mereka tetap bekerja sama untuk menentukan arah perjalanan Bangsa yang (katanya) sudah merdeka ini ada benarnya.
Jadi, sudahkah kita merdeka? Sudahkah kita berdaulat dan berhak menentukan arah kebijakan dan mengatur rumah tangga kita sendiri baik menyangkut kehidupan dalam negeri maupun pergaulan internasional? Dengan berat hati saya terpaksa mengatakan, kita pernah merdeka. Ya kita pernah merdeka. Dulu….dulu sekali….M…E….R….D…E….K….A.....(KAN INDONESIA SEUTUHNYA).

*Feri Suranta Ginting adalah seorang penulis jenaka yang
Memiliki selera humor yang kelewatan. Mengemas tulisannya
Dengan gaya yang ringan, lugas dan santai.

Jumat, 31 Juli 2009

Shillouette Wajah di Tembok Dekat Rak Buku

kau..
pernah...
ada disini...
di dalam ruangan....
3 X 3 Meter yang pengap..
bercat biru tua dengan penerangan seadanya...
silhoutte wajahmu membekas di tembok dekat rak buku..

sekarang...
kau ada di sini...
dalam kenangan yang menyebalkan...
begitu keras kepalanya bayangmu mendiami memori...
enggan enyah walau telah berjuta kali kuhalau membuatku galau...
hati yang demikian sempit tak cukup menyimpan jejak-jejak tawamu..
bau parfum murahanmu tetap nempel alat penciuman
bahkan desah nafasmu masih dapat kuhafal satu per satu
724 kali kau hela nafas 723 kali kau hembuskan kala kau duduk meneliti rak buku

kau...
pernah...
ada di sini....
tapi sekarang...
aku tak dapat....
melacak jejakmu...
kau jauh....jauh di sana...
terselip di lipatan hati laki-laki yang tak terdeteksi
tak terjejaki, tak terbaui
hanya dapat kupandangi shiloutte wajahmu di tembok dekat rak buku
telah terlukis dalam imaji
takkan hapus...
karena kulukis dengan darah perawanmu
meskipun pada akhirnya
kita saling menyakiti
tapi tak mengapa
toh kita telah berbagi
berbagi luka yang kita bungkus dengan canda remaja

Kini...
tubuh mulai merenta...
kita pernah berbagi luka
di ruang tiga kali tiga
kulukai dinding kegadisanmu
dan kau goreskan luka di hatiku dengan kuku-kuku tajam angkuhmu
dan kita saling menertawai
puas atas luka yang kita tinggalkan pada diri kita masing-masing
kita tak tahu cara mencintai
kita hanya tahu cara mengolok-olok luka
sungguh kita adalah pencela luka terhebat didunia

ah....
kau akan kukenang abadi
kulukis wajahmu di dinding tempat dulu shilloutte wajahmu jatuh
di sana kudirikan altar pemujaan
dan kubakar dupa aroma jasmine kesukaanmu
tiga kali sehari
seperti makan obat
kau kusembah sedemikian rupa
padahal takkan hapus luka yang kucipta di dinding kegadisanmu
meskipun aku menyembahmu serupa berhala
tapi terus kulakukan demi mengingatkan jiwaku bahwa aku pernah berbuat kesalahan

Selasa, 28 Juli 2009

untitled

ketika kita berbicara tentang salju dan anak-anak panda yang lahap menyantap pucuk-pucuk bambu muda, kulihat ada semacam gairah di matamu yang bundar dan lebar, kulit pipimu merona dan snyum yang kau kulum pun merekah. Betapa bersemangatnya kau bercerita, padahal kita tak pernah berkunjung ke negeri china sana, tapi entah mengapa kau begitu menyukai panda dan rumpun-rumpun bambu.

Aku bercerita tentang kemiskinan, rumah-rumah kardus dan kebodohan yang begitu akut di atas negeri yang demikian kaya ini. Hoaaaaaaaaaaaa....mmmmmmmmm.....mm kau mengulum bibir dan suaramu. Aku tak tahu apakah kau sedang berusaha menunjukkan kesopananmu dengan sedapat mungkin berusaha untuk tidak menguap atau karena kau belum sikat gigi sehingga kau malu untuk menguap karena takut nafasmu yang bau tercium olehku. Aku tidak tahu, tapi satu hal yang kutahu pasti. Kau bosan mendengar ceritaku yang itu-itu juga, sama seperti aku yang sudah bosan mendengar cerita tentang panda-panda bodohmu yang itu-itu juga.

"Tidak bisakah kita berhenti berbicara tentang kemiskinan yang selalu saja kau ulang-ulang itu?" tanyamu pada suatu waktu

""Baiklah. Kita akan berhenti berbicara tentang kemiskinan itu, tapi kita juga harus berhenti berbicara tentang panda-panda bodohmu."

Kau berbalik memunggungiku dan berjalan ke arah yang tak pernah kuharapkan. Aku kesal, lalu aku berjalan kearah yang bertolak belakang dengan arah yang kau tempuh. Sungguh indah, dua gerak berlawanan terjadi sekaligus dalam waktu yang bersamaan. sama seperti gerak matahari senja dan tiang-tiang listrik yang berbaris beraturan. Semakin jauh matahari senja bergerak ke ufuk barat, semakin panjang pula bayangan tiang listrik memanjang ke arah timur, kemudian keduanya mengabur, meruap dan hilang. Kita pun akan saling melupakan dan menindas memori yang mungkin tersimpan. Kau akan kawin dan beranak pinak dengan orang yang dengan sabar mendengar cerita tentang panda-panda tololmu, dan aku akan memenuhi bumi dengan keturunanku, karena aku pun akan kawin dengan seorang perempuan yang mau mendengar cerita tentang kemiskinan dan rumah-rumah kardusku.Mungkinkah suatu waktu nanti aku akan mencintai panda, atau sebaliknya, mungkinkah pada suatu waktu nanti kau akan mempunyai kepedulian terhadap masalah kemiskinan? Ah......itu pertanyaan kanak-kanak, terlalu dangkal dan terlalu umum. tidak ada hubungan yang mempersatukan keduanya, kalaupun ada, itu hanyalah keterkaitan yang dibuat-buat saja.

Panda-panda bodohmu adanya di kebun-kebun binatang dan taman-taman nasional yang dilindungi oleh pemerintah. orang-orang miskin, gelandangan dan anak-anak yang tidak sekolah milikku adanya di emperan toko, dikolong jembatan dan di desa-desa tertinggal sama sekali tidak mendapat perlindungan dari pemerintah dan sistem perundang-undangan. Panda-panda gendutmu ditanami pohon-pohon bambunya, sementara orang-orang miskinku dirampas hak-haknya sebagai warga negara, digusur tempat usahanya, dicabuti tanaman singkongnya dan dirampasi tanahnya. Kau berbicara tentang kemewahan dan aku selalu berbicara tentang perlawanan.

Yogyakarta 2003, lepas senja gerimis menyiram tanah sampai basah. Kurasa kita tak perlu berusaha untuk saling memahami dan mempersatukan dua hal yang tak dapat dipersatukan.Marilah saling menjauhi dan melupakan. Dekaplah panda-panda bodohmu dalam khayal dan aku akan memperjuangkan kemiskinanku dalam kenyataan. Tapi jujur, rasa itu memang pernah ada, hanya saja aku menganggapnya tak pernah ada.

Selasa, 21 Juli 2009

lantai dansa demokrasi

sinar purnama jatuh berserakan di rumpun bambu
seekor anak burung jatuh terkena anak panah
hembus angin kemarau kering dan berat
seberat harap yang sekarat
sekering asap rokok berbau laknat
kegelisahan bukan lagi milik mereka
sejak bangkai perjuangan massa tak lagi dihidupi
kini mereka bebas menari
dilantai dansa demokrasi
demokrasi karya imajinasi mereka sendiri