Blogroll

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 19 November 2014

Satu Indonesia Tetap Merdeka

Kepalkan tinju kecilmu
taruh lekat-lekat di dada
teriaklah selantang-lantangnya
getarkan bumi dengan nyanyian kita
nyanyian budak-budak terjajah
nyanyian petani yang tak punya tanah
nyanyian buruh yang berupah serapah
kita......
bukan bocah ingusan yang menulis dengan tinta;
dan kebanyakan tentang cinta
kita....
adalah kaum terbuang yang menulis dengan darah dan merahnya amarah

kepalkan tinju kecilmu
taruh lekat-lekat di dada
negeri ini dibangun di atas genangan darah
dan tumpukan mayat para pejuang
negeri ini tak dibangun diatas kata-kata
Merdeka!!!
air mata kami darah dan haru menyentak rongga dada kala meneriakkannya
di perut-perut kosong kami
di ratap bayi-bayi kami yang kekurangan gizi
di tangis para petani yang tanahnya dirampasi
di jerit para buruh yang gajinya dikebiri
dan di gubuk-gubuk reot kami
sedikitpun tak terdengar pekik merdeka itu

kepalkan tinju kecilmu
taruh lekat-lekat di dada
sudah cukup mereka berkata-kata
giliran mereka sekarang mendengar suara kita
tak sudi kita berkompromi dengan model-model kolonial
tak sudi kita diperbudak di atas tanah sendiri
tak sudi kita menghambakan diri pada tirani
kepalkan tinju kecilmu
taruh lekat-lekat di dada
satukan cita-cita
SATU INDONESIA, TETAP MERDEKA.

Sabtu, 09 Februari 2013

Puisi Asalan

menjemur bantal di bawah hujan; tak pernah kering
parasit dan jamur berlonjakan, seperti menari
mimpi-mimpi seperti daftar menu
bisa dipesan menurut selera

menjemur bantal di bawah hujan; tak kering meski telah berminggu
robek semakin lebar, jamur tumbuh kian subur
serupa kita yang mengecil di saat yang lain menjelma raksasa
ternyata kita masih serigala yang sama
bantal-bantal semakin rusak
dan kita masih terbuai dalam kebinantangan yang sama.

Sabtu, 26 Januari 2013

Aku Bunga Rumput Liar


kebodohan serupa bunga batu
takkan mekar meski disirami
malah retak dan berlumut
pecah menjelang fajar
lalu kita memungutinya
sedikit menitikkan air mata, lantas
keping-keping pecahannya
kita hunjamkan telak-telak ke ulu hati kita

selalu kita berputar-putar dalam cerita yang sama
menjadi contoh siklus kebodohan yang paling sempurna
yang di Jakarta
selalu membual mampu menyelesaikan masalah banjir yang saban penghujan menjadi head line media massa
lantas, ketika banjir berulang mereka berdalih ini adalah siklus tahunan, limatahunan bahkan seratus tahunan
dan kalian yang telah memilihnya pun maklum
sebab memang banjir telah menjadi kesehariaan saban penghujan
setiap lima tahun kalian tak pernah bosan didongengi cerita yang itu-itu juga

kebodohan seruap bunga batu
takkan mekar meski disirami
saban lima tahun kita disuguhi hidangan basi, dan
cerita yang itu-itu juga
memilih para badut untuk kencing di atas kepala kita sendiri
cerita pemberantasan korupsi dan kemiskinan menjadi dagangan yang paling sexy
dan kalian yang telah memilih mereka pun maklum
kalau mereka juga menipu seperti yang sudah-sudah
kalian merasa terbiasa dikibuli dan ditipu

aku adalah bunga rumput liar
belajar tumbuh di antara semak duri
meski kecil dan tak terawat
tapi aku berakar pada bumi
aku mekar jika hujan menyirami.

Kamis, 02 Desember 2010

Mengurai Benang Kusut Kemiskinan Akut di Indonesia

Indonesia adalah negeri kepulauan terbesar di dunia dengan letak geografis yang sangat strategis secara ekonomi, politik dan militer. Dengan luas daratan mencatai 199 juta Ha dan luas lautan dua kali luas daratannya. Tanah Indonesia sangat subur secara alamiah dan ditumbuhi berbagai jenis tanaman pangan dan berbagai jenis kayu yang selain bernilai jual tinggi juga sangat berguna bagi kehidupan karena hutan hujan trpois Indonesia adalah hutan hujan tropis terbesar nomor dua di dunia setelah Amazon.
Dari keseluruhan luas daratan Indonesia, sekitar 45,034 juta Ha dipergunakan untuk lahan pertanian atau 23,46% dari seluruh luas daratan. Lainnya dipergunakan untuk pertambangan besar dan padang savanna. Bagian terbesar dari lahan pertanian diperuntukkan sebagai lahan perkebunan yang mencapai 16,5 juta Ha (dan terus akan bertambah), sementara untuk persawahan yang dikhususkan untuk lahan penanaman padi hanya sekitar 8,5 juta Ha (dan terus akan berkurang. Hal inilah yang memicu terjadinya kerawanan pangan nasional. Nanti di belakang akan dijelaskan mengapa lahan untuk perkebunan terus meningkat sementara lahan untuk pertanian semakin berkurang). Lahan pertambangan dipergunakan untuk penambangan nikel, timah, Bijih besi, emas, minyak bumi, gas, batubara, pasir, dan berbagai sumber daya mineral lainnya. Singkatnya, Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa besarnya, baik yang meliputi sumber daya alam di atas permukaan bumi (berbagai jenis kayu khas hutan hujan tropis yang bernilai jual tinggi), di dalam perut bumi dan di dalam lautan yang maha luas.
Menurut data statistik terakhir, penduduk Indonesia telah mencapai angka kurang lebih 240 juta jiwa dan sebagian terbesar hidup di daerah pedesaan yang tersebar luas. Secara turun-menurun mereka mewarisi keahlian bertani, beternak, menjadi nelayan, menjadi tukang kerajinan dari para leluhurnya. Dahulu kala, keahlian tersebut dipergunakan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri (subsisten). Hampir 108 juta jiwa dari jumlah penduduk Indonesia adalah dari kalangan usia produktif, sungguh sebuah potensi yang luar biasa bila dipergunakan secara bijak dan benar. Akan tetapi, letak geografis, besaran jumlah penduduk yang hampir separuhnya adalah tenaga kerja usia produktif, sumber daya alam yang berlimpah sama sekali tidak berguna bagi peningkatan taraf hidup rakyat kebanyakan. Hal ini disebabkan oleh hubungan produksi semi feodal yang dijaga dengan penuh kekerasan oleh sistem semi kolonial dengan mesin politik dan budaya untuk kepentingan imperialis dan klas berkuasa dan klas reaksioner dalam negeri.
Sungguh ironis, memiliki wilayah teritorial (lautan dan daratan ditambah zona ekonomi ekslusif) yang demikian luas, sumber daya alam yang begitu berlimpah dan jumlah penduduk yang demikian besar tetapi terbelakang secara ekonomi, politik dan budaya. Tahu kah kita bahwa PT. Freeport Indonesia di Timika sana, sama sekali tidak membayar royalti sebagai tanda kepemilikan kita atas bijih emas pasir yang mereka tambang di bumi cendrawasih sana? PT. Freeport Indonesia yang telah menjelma menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Negara Amerika hanya membayar PPN sebesar 1% saja. Bandingkan dengan kita, para anak negeri yang harus menanggung PPN sebesar 10% setiap kali kita menginap di hotel atau makan di restaurant di tempat tujuan wisata. Kenyataan tersebut memaksa kita untuk berpikir kembali. Sudah cukup bijak kah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kita yang melepaskan kekayaan alam kepada pihak asing tanpa mendapatkan share keuntungan ataupun hak royalty dari kekayaan kita tersebut? Tentu tidak sulit menjawab pertanyaan tersebut, bukan? PT. Freeport menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Amerika, sementara kita, Negara pemilik bijih emas yang mereka tambang mendapatkan devisa terbesar dari para TKI. Memalukan.
Sejak konferensi Meja Bundar yang diselenggarakan di Den Haag pada 27 Desember 1949, kekuatan imperialis, terutama Amerika telah memperkuat kedudukannya di Indonesia dan berhasil mendirikan Negara yang sepenuhnya reaksioner sejak jatuhnya Soekarno dan berkuasanya rejim militeris-fasis Soeharto pada tahun 1966. Sejak saat itu, masyarakat Indonesia yang semi feodal telah sempurna berada dalam dominasi negeri imperialis baik secara ekonomi, politik, maupun kebudayaan, yaitu sistem semi kolonial (inilah sebabnya mengapa saya selalu menekankan bahwa hal yang paling penting ditelusuri dari persitiwa September 1965 bukan pada polemik tentang siapa sesungguhnya pelaku coup de etate karena kalau kita sepakat bahwa September 1965 adalah titik balik kemenangan kapital dan bedil di Indonesia maka dengan sendirinya, pertanyaan tersebut sudah terjawab. Siapapun pelaku kejahatan kemanusiaan 1965 adalah mereka-mereka yang memiliki kepentingan dan kedekatan dengan kapitalisme global).
Cengkeraman kapitalisme global yang telah menggurita menyebabkan Indonesia berkembang menjadi negeri reaksioner yang bergantung dengan sangat hebatnya pada sistem produksi semi feodal, yaitu hidup dari sistem pertanian terbelakang yang memproduksi bahan mentah bertujuan ekspor dengan mengandalkan monopoli tanah yang amat luas di pedesaan dan daerah pinggiran kota, penguasaan atas tanah ulayat adat dan hutan rakyat. Karena Negara reaksioner ini hanya menghasilkan bahan mentah bertujuan ekspor, maka dengan sendirinya akan sangat bergantung dari impor kapital (investasi dan pinjaman), aneka barang jadi (consumer goods) dan tak jarang mengimpor bahan pangan dari negeri imperialis (karena sebagian besar penduduk perkotaan sudah mengikuti tren dan gaya hidup western, terutama dalam hal pola makannya).
Pabrik-pabrik yang ada di Indonesia adalah pabrik setengah jadi (semi prosessing) dan industri ringan (subpirming) milik imperialis yang bergantung pada bahan baku impor untuk menguasai pasar domestik. Tidak ada industri berat yang memproduksi mesin, bahan kimia dasar dan semi-konduktor untuk memungkinkan Indonesia menjadi Negara industri. Industri milik borjuasi kecil lapisan atas dan borjuasi nasional tidak dapat tumbuh dan mengakumulasi kapital akibat dominasi pasar atas bahan mentah, tenaga kerja, dan limpahan barang impor milik imperialis yang membanjiri pasar dalam negeri (hal inilah yang menyebabkan bangkrutnya pabrik-pabrik gula dalam negeri dan contoh terbaru adalah gulung tikarnya para petani garam tradisional, padahal kita mempunyai laut yang luasnya 2 kali lipat lebih besar daripada daratan). Alhasil, mereka tidak dapat mengembangkan kapital secara mandiri dan dipaksa bergantung pada system oligharki finansial.
System produksi semi feodal mengandalkan monopoli tanah dan senantiasa melaksanakan penambahan luas lahan untuk dikuasi sebagai jalan utama untuk meningkatkan produktifitas (di depan tadi saya telah mengatakan bahwa lahan perkebunan akan terus melebar sementara lahan pertanian rakyat, terutama yang diperuntukkan untuk persawahan menanam padi akan terus berkurang. Inilah penjelasan atas pernyataan di atas tadi). Keuntungan dari produksi di atas tanah yang lama diperoleh dengan mengandalkan tenaga kerja murah dan alat kerja terbelakang semata. Sebagian besar keuntungan tidak diinvestasikan kembali untuk memodernkan alat kerja dan melatih buruh untuk meningkatkan produktifitas.
Sistem semi feodal adalah karang raksasa penahan laju lahirnya industri dan industrialisasi Indonesia. Perkembangan tenaga kerja mengalami stagnasi. Pengetahuan dan kapasitas pekerja dibelenggu alat kerja terbelakang yang tidak membutuhkan tenaga kerja terampil dan berpengetahuan, lebih dari itu, produksi pertanian dan industri semacam itu hanya mampu menampung tenaga kerja dalam jumlah yang terbatas sehingga akan mempertajam persaingan antar tenaga kerja untuk mendapatkan kesempatan kerja yang amat terbatas dan sangat birokratis tersebut. Keadaan ini, secara sistematis akan menekan tingkat pendapatan (besaran upah) buruh tani di pedesaan dan buruh pekerja di perkotaan dan pinggiran kota.
Monopoli atas tanah menyebabkan semakin terkonsentrasinya tanah di segelintir tuan tanah besar yang akan terus melancarkan perampasan tanah, teristimewa dalam situasi krisis imperialis yang memuncak. Akibatnya kaum tani yang kehilangan tanah dan yang hidup dari tanah seadanya semakin banyak jumlahnya di pedesaan dan daerah pinggiran kota. Keadaan ini dimanfaatkan dengan kejam oleh para tuan tanah untuk melipatgandakan keuntungannya dengan mempraktikkan sewa tanah yang mencekik, peribaan dengan bunga tinggi, upah buruh tani yang sangat rendah dan tengkulakisme yang semakin merajalela.
Sistem semi feodal ini sangat menguntungkan bagi imperialis dan klas reaksioner dalam negeri. Oleh karena itu, dengan sekuat tenaga dan penuh kekerasan mereka akan mempertahankannya. Pasca perang dunia ke-2 imperialisme telah memperkenalkan sistem semi kolonial untuk menjaga dan mempertahankan sistem semi feodal dari kemungkinan perlawanan yang dilancarkan oelh seluruh klas terhisap dan tertindas. Mesin politik dan kebudayaan dibangun dan terus diperkuat dengan satu tujuan melindungi sistem semi feodal dan semua aset dan kepentingan kaum imperialis dengan cara menindas kekuatan potensial perlawanan rakyat dan klas buruh, kaum tani dan mahasiswa yang berontak terhadap sistem jahanam tersebut.
Mesin utama dari negeri reaksioner Indonesia adalah pemerintahan boneka (SBY-Boediono) yang pro imperialisme dan kapitalisme. Pemerintah boneka bertugas untuk membuat undang-undang dan atau kebijakan-kebijakan sesat demi dan untuk kepentingan imperialisme belaka. Di tengah penderitaan rakyat yang terus menderas, pemerintah boneka hanya dapat memerintah apabila dilengkapi dengan instrument penindas yang spesial, yaitu setan hijau dan setan coklat (TNI-Polri) serta laskar-laskar sipil yang terlatih dan dipelihara oleh pemerintah boneka tersebut (itulah sebabnya di Indonesia ini banyak sekali laskar-laskar tidak jelas dan sangat reaksioner dan menjadi kekuatan potensial yang selalu saja berhasil dimanfaatkan oleh pemerintah boneka untuk menghabisi gerakan-gerakan ataupun organisasi yang mengambil sikat berseberangan dengan penguasa. Biasanya golongan ini berasal dari kalangan agamis yang kelewat fanatik dan kolot. Agaknya penguasa berhasil dengan baik memanfaatkan pertentangan antara kaum Islam dan Katholik binaan Pastor Beek di satu pihak dengan kekuatan ideologi kiri di pihak lain, dan belakangan bertambah dari barisan Kristen Protestan kharismatik yang berkembang dari Amerika dan Inggris).
Pemerintahan boneka terus-menerus berusaha menyempurnakan instrumen “Demokrasi” nya sebagai topeng untuk menipu dan mempermainkan aspirasi rakyat. Lembaga-lembaga seperti Mahkamah Konstitusi, DPR, MA, Jaksa Agung, kabinet dan berbagai macam komisi dan badan pengawasan serta auditor-auditor dibentuk dalam kerangka tersebut. Demikian juga halnya dengan General Election (PEMILU). Sistem politik Amerika yang dijalankan oleh borjuasi besar monopoli adalah rujukannya yang paling utama, tentu saja dengan beberapa modifikasi agar sesuai dengan gaya dan selera borjuasi nasional.
Dominasi politik saja tidak cukup (karena sebagaimana Pramoedya Ananta Toer pernah berkata bahwa kekalahan politik tidak berarti kekalahan budaya, tetapi kekalahan budaya pastilah berarti kekalahan politik dan akan berimbas pada kekalahan ekonomi dan kekalahan di segala sendi kehidupan), maka untuk memastikan kekuasaannya berlangsung dalam waktu yang panjang (Seperti Soeharto), maka dominasi kebudayaan, terutama di bidang pendidikan dan pengetahuan harus dilaksanakan (maka jangan pernah heran mengapa biaya pendidikan begitu besar di negeri Indonesia ini, agar para peserta didik lebih fokus pada usaha menyelesaikan pendidikannya ketimbang belajar hukum dan politik). Sekolah, Universitas, media massa (yang seharusnya mencerminkan realitas malah mendistorsi realitas itu sendiri), berbagai jenis kesenian, gaya hidup, makanan dan sebagainya harus dibuat dan dikendalikan oleh mereka agar rakyat bersedia mengabdi pada imperialisme, sekaligus mengeliminir potensi resistensi rakyat.
Imperialisme dan rejim bonekanya memiliki begitu banyak mesin untuk menindas sekaligus memiskinkan rakyat secara sistematis. Coba kita sama berpikir. Sesungguhnya, bila seluruh sumber daya alam, baik yang berada di atas permukaan bumi, di bawah perut bumi dan di dalam lautan yang maha luas ini tidak dikelola dalam sistem produksi lama sisa feodalisme dan tidak di bawah control imperialisme, maka akan cukup untuk memenuhi semua kebutuhan kita dan membangun industri nasional dan tidak perlu mengharapkan inventasi maupun segala macam bentuk pinjaman luar negeri.
Bila anda tidak sepakat dengan apa yang saya tuliskan ini, tolong berikan alasan dan penjelasan anda. Karena di atas saya telah memaparkan bahwa Indonesia ini sama sekali tidak mempunyai alasan dan prasyarat untuk menjadi Negara miskin. Lalu mengapa Indonesia kita ini menderita kemiskinan yang demikian akut?

Selasa, 16 November 2010

Pantai, Pasir dan Angin

dipantai....
gerimis mengarsir matahari terbenam
tak ada burung camar bersahutan
hanya aku, sebotol bir hitam
dan bayangmu yang timbul tenggelam dalam buaian ombak, yang
bergulung menghantarkan rindu yang membuih

dipasir....
kulukis resah
aku tak mau seperti karang
perlahan terkikis menuju ketiadaan
aku ingin seperti angin
semakin dihajar; semakin tegar
semakin dihadang; semakin kencang.

Bukan Sajak Romantis

kita terlalu sabar

selalu diam ketika dikhianati

dan, mereka semakin liar menari

di atas genangan darah anak negeri

melawan kepal tangan dengan senapan

melawan spanduk dengan peluru tajam



hiraukah?

ketika kekayaan negeri diperkosa, dan

dinikmati rakyat negeri raksasa nun jauh di sana?

ini bukan sajak mendayu

sebab sejak lama petani menanam di petak-petak harap yang sekarat

ini bukan sajak romantis

sebab sejak lama kita berpeluh dan berupah serapah



sejenak,

lupakan sketsa estetika kata, dan

standar baku sajak gaya penguasa

gunakan darah dan air mata sebagai tinta.

Jogja Java Carnival 2010

Hmmmmm....Pertanda apa ini? hari ini aku kembali duduk di tempat ini bersama 4 orang teman yang semuanya perempuan, tepat di depan mirota batik Jl. Malioboro. ah...sudahlah, aku tidak mau berpikir macam-macam atau bermain-main dengan masa lalu, yang belum sepenuhnya mampu kubunuh dari ingatan.


Ribuan orang tumpah ruah di Malioboro, menunggu karnaval yang ternyata membosankan. tepat di sini, di tempat aku dan teman-temanku berdiri sekarang, suatu hari di masa yang telah lewat, ada pentas musik dan aku tepat berdiri disini menyaksikan penampilan kawan-kawan pengamen jalanan yang diberi kesempatan untuk unjuk kebolehan.

Lagi-lagi aku tidak mau larut dalam cerita yang telah lewat itu, dan aku enggan menyebutnya kenangan. Biarlah semua mengalir menuju muaranya masing-masing dengan kehendaknya masing-masing karena Sang Empunya hidup tentu sudah membuatkan skenario takdir yang harus dijalani oelh setiap ciptaannya. Relakanlah...bathinku sambil mengelus dada dan sesekali menghembuskan asap rokok yang pekat dan berbau laknat.


*Yogyakarta Mei 2004: Sore hari seorang teman berinisial "D" menelephone dan meminta aku menemani dia melihat pesta kembang api di alun-alun utara setelah acara penutupan 'SEKATEN' dan aku bersedia menemani dia. sembari menunggu digelarnya pesta kembang api itu, ada sepenggal percakapan diselingi semangkok ronde panas yang terpaksa dibagi berdua, bukan karena ingin romantis-romantisan, tapi karena status sebagai anak kost memaksa kita untuk berhemat. hahahahaha..hihihihihihi...percakapan yang renyah dan mengalir. saling menatap, lalu tertunduk malu dan kemudian tertawa lagi.

Karena pesta kembang api yang ditunggu-tunggu belum juga dimulai, kami beranjak dari alun-alun Utara menuju jl. Malioboro, kebetulan beberapa teman dari komunitas "Seni Jalanan" membuat pentas musik anak jalanan, tepat di tempat kami berdiri menyaksikan karnaval tadi. Percakapan di alun-alun Utara tadi tidak terbawa sampai ke tempat ini karena suasana yang tiba-tiba tegang. Mirota Batik Jl. Malioboro tiba-tiba terbakar. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke alun-alun Utara untuk melihat pesta kembang api penutupan Sekaten. sayang seribu kali sayang, dari panitia pelaksana kami mendengar bahwa pesta kembang api dibatalkan. Dongkol setengah mati rasanya, bukannya menyaksikan pesta kembang api yang mewah, malah melihat kebakaran yang tragis. Di perjalanan pulang praktis tak ada percakapan di antara kami, mungkin karena capek, kesal dan dongkol karena yang ditunggu-tunggu malah dibatalkan. Entahlah di mana kini kau berada, tapi aku tahu kau pasti sedang berbahagia dalam pelukan dia yang sangat mencintaimu dan yang kau cintai setengah mati.*


Tadi, kami harus pulang jalan kaki karena tak ada taksi yang kosong akibat berjubelnya manusia yang berebut kendaraan pulang. sampai di depan gedung BI ada kembang api dari arah perempatan Malioboro yang berterbangan ke angkasa, semakin lama semakin besar dan banyak, warna-warni dan terus membesar. Bangsat!! akhirnya aku larut juga dalam jerat masa lalu yang berakhir tidak indah antara kita. Kembang api sialan, tak ditunggu kehadiranmu tapi kau datang menghajar ingatan dan melemparkan aku jauh ke suatu malam enam tahun yang lalu. sesekali aku melihat ke belakang, dan sengaja berjalan di belakang. tiba-tiba saja kelopak mataku panas, ada dua manik mengembang di sana, dan tiba-tiba saja dada menyesak dan nafas tertahan di tenggorokan. seketika haru yang teramat sangat membuat rongga dada terasa sempit. ah....masa lalu yang selalu saja tak mampu kubunuh sepenuhnya.

Sengaja kutinggalkan langkahku di belakang teman-teman yang lain. aku tak mau terlihat terpukul, dengan alasan melihat kembang api yang seakan mengejekku itu aku menghapus air mata sialan yang tak mampu kubendung lagi. di sayidan, kami berhenti. membuat beberapa photo. tapi aku merasa sendiri, tiba-tiba.


*Yogyakarta September 2003, Kita bertukar buku saat detik-detik menjelang perpisahan, sama-sama berurai air mata, berpelukan erat. Di sampul belakang The Book of Laughing and Forgetting nya Milan Kundera yang kuberikan kepadamu aku menulis, "Kita adalah sepenggal kisah tentang kebesaran hati dan kerelaan. Memilih untuk berpisah untuk mematangkan pemaknaan terhadap kehidupan. Aku bersyukur karena tak setitik noda pun pernah kutitipkan padamu." dan di sampul belakang L'Immortalite nya Milan Kundera yang kau berikan kepadaku kau menulis, "Biarlah segenap alam raya dan isinya mengatakan kita berpisah, tapi kita tahu bahwa semua yang terjadi di antara kita hanya karena waktu dan takdir tidak berpihak kepada kita." dan kita pun melemparkan sim card kita berdua ke dalam kali dari jembatan sayidan dan sepakat untuk tidak akan mencari keberadaan masing-masing, kita akan saling menghapus kenangan. Kalau pun kelak kita akan bertemu kembali, biarlah takdir yang akan mempertemukan kita, bukan kehendak dan keinginan kita. Kau menstarter sepeda motormu menuju malioboro dan aku memacu sepeda motor (pinjaman) ku menuju Kusuma Negara. Sungguh indah, dua gerak berlawanan terjadi sekaligus dalam waktu yang bersamaan.*


Melanjutkan perjalanan menuju Taman Siswa dengan rasa yang semakin bercampur aduk. Sesampainya di Taman Siswa aku memilih langsung pulang, tapi begitu taksi sampai di pertigaan kusuma negara aku minta ke pak sopir untuk kembali ke sayidan. menghabiskan sebatang rokok dan kulemparkan puntung laknak itu ke dalam sungai seperti saat kami melemparkan simcard untuk menghapus jejak kedekatan yang telah sempat kami bina. lalu melaju menuju block O. aku ingin jatuh dalam pelukan tidur yang nyaman. tapi, sulit untuk mengajak mata terpejam. masa lalu itu terlalu berat menghajarku. Damailah kiranya hidupmu dan hendaknya segala kebaikan hidup selalu berpihak kepadamu.


Tadi, aku kembali berdiri di tempat yang sama dengan tempatku berdiri enam tahun yang lalu, entah pertanda apa semua ini?

Senin, 15 November 2010

CATATAN PERJALANAN

Catatan Perjalanan I

(Jakarta-Jogja)

12 Sept ‘10

Entah sejak kapan batu-batu itu berserakan di sana menutupi bantalan rel. Mungkin salah satunya atau beberapa ada yang setua riwayat kereta api itu sendiri. Stasiun Gambir pukul 07.00 WIB, kereta baru akan berangkat satu jam lagi. Kalau aku tidak dilanda disorientasi arah, sekarang aku sedang menghadap utara, di sana berdiri dengan megah Monumen Nasional, terlihat gagah, meskipun bagiku secara estetika tidak indah. Ia terlihat gendut, tepatlah kiranya Monas menjadi symbol negeri ini, symbol kerakusan pejabat-pejabat korup dan gendut. Sedang emas yang terletak di puncaknya menjadi symbol ketololan. Mempunyai negeri kaya, tetapi kekayaannya justru dinikmati oleh negeri-negeri raksasa nun jauh di sana. Satu-satunya Negara yang menempatkan emas di puncak menara yang menjadi trade mark negaranya justru Negara yang menderita kemiskinan yang demikian akut.

Jika benar aku sedang menghadap kea rah Utara, maka di belakangku adalah Selatan dan gedung yang tepat terletak kira-kira dua ratus meter di belakangku itu pastilah eks gedung School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA), sekolah dokter pertama di Indonesia. Sebuah jejak sejarah dalam pergerakan menuju Indonesia merdeka. Masih dapat kurasakan semangat para calon dokter muda itu yang secara sembunyi-sembunyi di tengah kesibukan dan beban pelajarannya mereka masih menyempatkan diri untuk berdiskusi dan membentuk pergerakan menuju Indonesia merdeka.

07.30 WIB kereta sudah memasuki stasiun Gambir. Ak naik ke dalam kereta dan menaikkan bawaanku ke dalam bagasi di atas tempat dudukku. Aku sangat menikmati perjalanan dengan kereta api karena sabuk besi yang mengalungi bumi Jawa ini juga sarat dengan sejarah perjalanan bangsa ini. Jangan bayangkan rel ini dibangun dengan alat-alat berat seperti di jaman sekarang. Besi rel lintasan dan kayu bantalan dipanggul oleh para pekerja yang tentu saja secara paksa dipekerjakan oleh yang dipertuan. Pada awalnya rel dan kereta api ini hanya diperuntukkan untuk transportasi tebu dan gula yang setiap tahunnya memberi keuntungan jutaan gulden kepada Netherland sebagai Negara induk. Pembangunan jalur kereta api ini penuh dengan kisah pilu dan merupakan kisah genochida yang memakan korban yang tidak sedikit jumlahnya. Pembangunan jalur kereta api ini sama saja kisahnya dengan pembangunan jalan raya pos atau jalan raya daendels yang menghubungkan ujung barat pulau jawa sampai ujung timur pulau Jawa yang peruntukannya hanya untuk mempermudah transportasi dan perpindahan pasukan penjajah untuk memadamkan pemberontakan dan perlawanan di seluruh bumi Jawa. Menyedihkan.

Lengking peluit dan klakson kereta menyadarkan aku dari lamunan akan suatu masa yang telah begitu lama berlalu. Kereta melaju ke Barat Meninggalkan Gambir, Jati Negara, Buaran, Bekasi, Lemah Abang, Karawang. Sampai di sini kembali aku teringat akan pasukan Republik yang semakin hari semakin terdesak kedudukannya karena sweeping yang terus-menerus dilaksanakan oleh pasukan Belanda untuk membersihkan Jakarta. Antara Karawang-Bekasi, beribu kami mati, bunyi sajak Chairil Anwar. Meninggalkan Karawang menuju Tasik terus meluncur menuju Cirebon, aku jatuh ke dalam dekap tidur yang nyaman. Hawa panas diluar tewas oleh tikaman AC yang dingin dan nyaman, tapi membuat kulit kering dan keriput.

Aku terbangun ketika kereta memasuki Purwokerto. Tak ada yang istimewa di kota ini, mungkin karena aku tak pernah mengalami peristiwa apapun di kota ini. Aku kembali tertidur dengan sedikit rasa lega karena kutahu, 3 jam lagi aku akan sampai di Jogja.

Kembali aku terbangun ketika kereta memasuki Kutoarjo, Purworejo, semakin dekat dan aku semakin mengenali petak-petak sawah ini, aku semakin mengenali jalanan, gapura dan semua bangunan ini. Wates, Kulon Progo, lalu perlahan memasuki Jetis. Yah….aku sudah mengenalmu dengan lekat. Sebentar lagi aku akan berkeliaran di atas tanah dan jalananmu, kota kecintaanku.

Kereta berhenti, aku menurunkan bawaanku dan bergegas Turun. Lama sekali aku memandangi Stasiun itu, seakan-akan aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Dia terlihat begitu istimewa, padahal, dulu ketika masih berdiam dan hidup di kota ini, aku tak pernah peduli terhadap keberadaannya.

Keluar dari stasiun Tugu, aku tertegun memandangi Hotel Tugu yang sudah termakan usia. Aku menatap sirene yang dijadikan sebagai pertanda berakhirnya jam malam seperti yang ditetapkan oleh pemerintahan penjajah Belanda yang justru dijadikan oleh laskar rakyat dan tentara Republik sebagai suatu pertanda dimulainya Serangan Umum Satu Maret dan menguasai Jogja selama enam jam sebagai bukti kepada dunia internasional bahwa Republik belum tamat riwayatnya baik secara de facto maupun secara de yure. Untunglah aku bukan seorang penjahat kelamin atau hobbies “Wisata Lendir”, jadi aku langsung menuju rumah seorang teman yang sudah berbaik hati menyatakan kesediaannya untuk menampungku selama aku di Jogja ini tanpa singgah di pasar kembang (flower market/sarkem) yang terletak persis di samping stasiun Tugu Jogja. Kalau di antara kalian ada yang doyan berwisata lender atau “jajan” atau sekedar “numpang celup” silahkan berkunjung ke sana, tapi jangan lupa membawa perlengkapan dan “Helm” untuk keselamatan anda. Harga yang ditawarkan sangat bersahabat, tapi harap maklum karena kelas ekonomi jadi kualitas yang ditawarkan pun hanya seadanya saja, hanya sekedar bisa “ numpang celup” saja.

Pertemuan dengan seorang kawan lama, sungguh, dia tetap cantik dan mempesona, sama seperti permunculannya yang pertama dulu. Begitu rupanya orang cantik, sekali cantik tetap cantik. Hidup cantik!! Hahahahaha. Pernah juga sih hampir nembak dia pakai megaphone, lengkap dengan lagu-lagu perlawanan dan atribut aksi. Heroik kali ya? Tapi mungkin dia akan menganggap aku gila kalau sampai aku benar-benar melakukannya. Hahahahahaha

Jogja…oh…Jogja. Aku kembali berdiri di atas tanahmu dan menghirup udaramu, semoga kali ini aku mendapatkan kekuatan lebih dari yang kuinginkan.

Catatan Perjalanan II

(Jogja-Malang)

18 sept ‘10

Beginikah rasanya Sendiri itu? Gerbong berderit-derit dalam kebisingan yang sia-sia karena tak ada yang sudi mendengarnya secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Gerbong-gerbong besi merayapi rel yang sejak purba mengalungi bumi Jawa Dwipa.

Aku kedinginan, sementara aku tidak tega mengarahkan AC ke arah ibu muda dan anaknya yang masih kecil yang juga sama kedinginan di sebelahku. Aku menghadapai dinginnya AC itu bak pahlawan, dengan duduk yang sengaja digagah-gagahkan dan kadang melempar senyum yang juga sengaja dimanis-maniskan kala ibu muda itu melemparkan senyum yang kutahu pasti tak akan membuat dia rugi karena telah melakukannya. Aku tahu cara memperlakukan wanita dengan hormat.

Sosokmu menari-nari pada pal-pal batu yang setiap sekian detik sekali terlewatkan satu demi satu. Hari sudah pagi ketika aku terbangun, celingak-celinguk ke luar jendela , akhirnya aku tahu bahwa ular besi yang kutumpangi ini sudah memasuki kota Kediri. Aku semakin dekat pada kota yang kutuju. Di belakang, kota yang tadi malam kutinggalkan, yang mendekapmu dalam pelukan tidur yang nyaman semakin jauh kutinggalkan. Lengking panjang peluit di Stasiun Tugu masih lekat di telingaku. Begitu menyayat dan klakson kereta yang membelah heningnya malam pada pukul 23.59 WIB membuat hati semakin rawan. Peron sesak oleh para penjemput dan penghantar. Kulewati semua dengan kesedihan. Para penjemput bersalaman dan berpelukan hangat ketika bertemu dengan orang yang dia nantikan kedatangannya, para penghantar bersalaman dan berpelukan berurai air mata dengan orang yang dia hantarkan keberangkatannya. Aku benar-benar merasa sendirian. Tak ada yang menyalami atau memelukku dengan hangat. Aku merasa sangat sendiri dan kesepian, tiba-tiba.

Kereta terus melaju ke a rah Timur, sekarang sudah memasuki Blitar, kota para pemberani dan “merah”. Sebentar lagi aku akan memasuki kabupaten Malang. Ibu muda yang duduk di sampingku mulai merapikan rambut dan pakaian anaknya yang ternyata adalah anak perempuan, mungkin usianya hampir sama dengan dengan gadis kecilku yang harus kutinggalkan selama sebulan ke depan. Wajah ibu muda itu tampak berseri-seri, dan sekali lagi ia melemparkan senyum manisnya ke arahku. Aku tahu, sesungguhnya ia mau berkata bahwa sebentar lagi ia akan bertemu dengan suaminya yang tercinta, dan ia senang karenanya. Betapa hidup akan begitu nikmat bila memiliki istri yang setia seperti dia. Aku tak menemukan nada genit dan menggoda pada senyum manisnya, tak juga kerling mata.

Hingar-bingar suara dari ruang informasi berbaur dengan keributan manusia yang mempunyai kepentingan berbeda kala aku turun di stasiun Kota Baru, Malang. Lalu-lalang tanpa tegur sapa, lagi-lagi aku merasa sendirian. Tak ada yang menjabat tanganku atau memelukku dengan hangat. Aku sudah sampai di kota yang kutuju, tiga minggu akan kuhabiskan di kota aple ini. Setelah semua ini selesai, aku akan kembali ke Jogja untuk memunguti sisa-sisa masa mudaku yang begitu banyak berceceran di sepanjang jalan Malioboro, Jembatan Sayidan, Alun-alun, jalan Gejayan, Mrican baru…..ah…sepinya.

Catatan Perjalanan III

(Malang-Jogja)

12 Okt ‘10

Gajayana sudah mulai memasuki Stasiun Kota Baru Malang pada pukul 16.00 WIB. Aku naik ke dalam kereta dan menaikkan barang bawaanku ke dalam Bagasi di atas tempat dudukku sesuai dengan yang tertera di dalam tiket. Ada sepasanga suami istri muda yang duduk di tempat dudukku. Si laki-laki langsung berdiri, dia meminta maaf lalu berniat untuk pindah ke bangku yang lain. Lalu aku maklum bahwa hanya salah satu dari mereka yang akan berangkat. “Gak apa-apa mas, santai saja. Silahkan dilanjutkan.” Kataku, lalu beranjak turun, kebetulan aku ingat pesan seorang teman untuk membelikan apel dan aneka keripik khas Malang.

16.25WIB, lima menit lagi kereta akan berangkat. Aku kembali naik ke atas gerbong 7 menuju bangku 10B tempat dudukku. Pasangan muda itu berpelukan tanpa sungkan, lalu cium pipi kiri, cium pipi kanan, lalu si laki-laki berjalan turun setelah mengucapkan selamat jalan kepada istrinya yang cantik. Laki-laki itu mengucapkan terima kasih atas pengertianku memberinya waktu berduaan dengan istrinya yang tercinta. Betapa bahagianya hidup bila memiliki seorang istri cantik dan setia seperti dia. Aku mengangguk kecil dan tersenyum getir karena aku kembali sadar bahwa kali inipun tak ada yang menghantarkan keberangkatanku, tanpa salam hangat atau pelukan yang erat.

Begitu kereta berjalan aku langsung memutuskan untuk jatuh ke dalam pelukan tidur yang jarang kudapatkan belakangan ini, perempuan cantik di sebelahku ini tampak kedinginan, aku tidak berani menawarkan selimutku kepadanya karena aku menghormati suaminya yang bahkan namanya saja tak sempat kutanyakan tadi. Aku menyingkirkan selimut yang masih terbungkus itu ke sampingku, berharap ia meminta ijin untuk memakainya. Ah….kali inipun aku belum juga bisa tertidur, sementara perempuan cantik di sampingku ini sudah lelap begitu dalam dalam buaian mimpi. Kuteliti wajahnya. Dia begitu cantik, putih, hidungnya bangir. Benar-benar cantik bukan buatan, lalu turun ke leher dan terus ke bawah leher. Masyaallah….aku kembali menaikkan pandanganku ke wajahnya, daerah bawah leher itu adalah daerah terlarang untuk kulihat. Hehehehehe. Ternyata, secantik-cantiknya orang, pasti punya sisi jelek juga. Dia tidur dengan mulut yang terbuka lebar. Aku benar-benar tidak bisa menahan tawa melihatnya, lalu aku keluar dari gerbong menuju persambungan antar gebong untuk merokok.

Kulukis wajahmu dengan gumpalan asap rokok berbau laknat, memberi nikmat yang sesaat, sisanya adalah kesumat. Ah…sungguh, seandainya ada obat yang mampu menciptakan Amnesia parsial permanen dan kita dapat menentukan bagian mana dalam kejadian hidup kita yang ingin didelete dan dihapus secara permanen, tentulah aku sudah mengkonsumsi obat itu. Bayangmu menari-nari di petak-petak sawah, hutan pinus dan formasi pebukitan yang kecil mengecil di kiri-kanan jalur kereta.

Tepat pukul 22.00 WIB ada pemeriksaan tiket, aku tidak tahu kereta sudah sampai di mana, dan aku benar-benar tidak mau tahu. Yang kutahu hanyalah bahwa satu jam empat puluh lima menit lagi aku akan sampai di jogja. Ternyata perempuan cantik disebelahku ini juga akan turun di Jogja, hanya dalam waktu kurang dari dua jam kami akan tiba dan turun di Jogja, lalu berpisah menuju arah kami masing-masing tanpa ada jaminan bahwa sutu saat kelak akan ada pertemuan kembali, tapi kami sama-sama tidak tertarik pada perkenalanan yang sesaat. Dia asyik dengan ponselnya, dan akupun begitu, kalau kebetulan saling bersitatap kami hanya saling melempar senyum, lalu kembali asyik mengupdate status dan menjawab beberapa koment. Kami benar-benar enggan untuk saling berbasa-basi.

Kereta sudah sampai di Stasiun Tugu dan perempuan cantik di sebelahku ini masih tertidur pulas, selesai menurunkan semua bawaanku dari bagasi, aku membangunkan perempuan cantik ini dengan menyentuh pundaknya, dia tampak tergagap dan kaget ketika aku melakukan itu dan serta merta dia menyilangkan kedua tangannya di dada. Aku tidak tahu kenapa rata-rata perempuan yang merasa terancam selalu menyilangkan kedua tangannya di dada berusaha untuk melindungi payudaranya? “Mbak, sudah sampai di jogja, dan kereta hanya akan berhenti selama 10 menit. Mbak mau ikut sampai Jakarta?” candaku, lalu aku turun dari atas kereta tanpa pernah menyesal tidak sempat berkenalan dengan perempuan cantik itu.

Seorang teman lama menjemputku dan menyambutku dengan salam hangat. Aih….ini kali pertama aku mendapat sambutan selama perjalanaku ini. hehehehehe. lalu bercerita sampai dinihari ditemani secangkir kopi dan beberapa batang rokok, lalu jatuh ke dalam tidur yang teramat dalam.

Catatan Perjalanan IV

(Jogja-Jakarta)

19 Okt ‘10

Ada banyak cerita di kota yang sangat kucintai ini, pertemuan dengan beberapa orang kawan lama dan beberapa kisah yang memilukan.

Apapun dan bagaimanapun bentuk dan wujudnya, Jogja tetaplah Jogja, meskipun sekarang kearifan, keanggunan, keramahan dan kenyamanannya sedikit demi sedikit tergerus oleh perubahan jaman yang secara perlahan merusak fisik dan jiwa kota ini, dia tetaplah Jogja yang kucintai meskipun tiba-tiba saja aku merasa asing dan belum pernah mengenal kota ini sebelumnya, toh aku telah menghabiskan seperempat usiaku di kota ini.

Kadang aku mengeluh karena warung gulai ayam tempat kami biasa nongkrong ketika masih kuliah dulu sudah berpindah tempat, meskipun hanya berpindah tempat ke sebelah sejauh satu pintu. Gulai ayam warung kerai itu memang masih tetap enak, tapi rasa enaknya sedikit berkurang karena dia tidak lagi berada di tempat yang sama seperti dulu. Ada harga kenangan yang berkurang dan sedikit tereduksi. Kadang juga mengumpat dalam hati bila angkringan pak de Noto di depan secretariat Palawa di samping kampus Mrican tidak buka.

Pukul 23.15 WIB aku pernah nongkrong di sini, di angkringan pak de Noto. Aku heran karena sudah tidak ada lagi tumpukan nasi kucing di atas meja seperti dulu. Karena heran aku bertanya, “Pak de, segonipun sampun telas nggih?”

“Urung mas, isih akeh kok.” Kata pak de Noto lalu membuka tutup termos tempat penyimpanan nasi dan memindahkannya ke dalam piring, lalu ada sayur, telur dadar, lele goreng. Tempat ini begitu bersejarah dalam hidupku, tiba-tiba saja aku merindukan suasana Jogja tempo doeloe. Aku merindukan angkringan dengan tumpukan bungkusan nasi kucing, aneka gorengan, aneka sate murahan, segelas kopi tubruk, sebatang djarum 76 dan obrolan yang hangat, gayeng dan guyub. Sekarang, sepertinya pak de Noto sudah tidak sempat lagi ngobrol dengan para pelanggannya karena sibuk menggorengi telur dan lele. Sungguh, para pendatang yang mendiami Jogja yang sekarang tidak tahu cara menjaga kearifan dan kesucian Jogja, tanpa tabik dan nderek langkung tiba-tiba saja merubah Jogja dengan semaunya dan sekehendaknya sendiri saja.

Banyak hal yang berubah dari Jogja, tapi aku tidak berhak menilai apakah ia berubah kea rah yang lebih baik atau lebih buruk, toh tak akan ada peradaban yang statis. Dia akan terus berkembang mengikuti arus jamannya. Sedih memang melihat Jogja yang seperti ini sekarang, dan jauh di lubuk hati yang paling dalam aku bersyukur, sangat bersyukur pernah hidup dan merasakan atmosfer Jogja di tahun 90’an sampai awal 2000’an. Aku merasa sangat beruntung karena masih sempat merasakan betapa bersahabatnya dan betapa hangatnya Jogja di masa lalu. Tapi sudahlah, toh Jogja sudah berubah, tak perlu terlalu melankolis menyikapinya. Apapun dan bagaimanapun bentuk dan wujudnya sekarang, Jogja tetaplah Jogja, meskipun kelak bila ia harus berganti nama, ia tetaplah Jogjaku, Jogjamu, Jogja kita.

Setelah dua tiket kereta api yang batal dipakai akhirnya aku berangkat juga meninggalkan Jogja tercinta ini menuju Jakarta. Karena keuangan yang muai menipis, aku terpaksa naik kereta api kelas bisnis. Bangun pagi tanpa berpamitan kepada siapapun, aku berangkat sendiri ke Stasiun Tugu. Aku tahu, beberapa orang teman pasti akan marah dengan keputusanku ini karena ada beberapa yang pasti bersedia dan mau mengantarkan aku ke tasiun Tugu jika aku memintanya.

Aku benar-benar sendirian sekarang, di dalam kereta gerah karena kipas angin macet. Tapi aku merasa dingin dan sendirian. Ada airmata yang tak tertahankan ketika kereta bergerak ke Barat meninggalkan Jogja. Masih ada sebertik keraguan dikala “pulang” bukan lagi menjadi sebuah pilihan bijak, di sisi lain, Jogja pun sudah berubah dan bukan lagi menjadi sebuah pilihan yang tepat karena tentu saja kita tidak bisa kembali ke masa lalu dan mencegah semua ini terjadi. Kita tidak berdaya dan tidak mampu melakukan apa-apa untuk membelokkan arah jalannya hidup itu sendiri, bukan? Yah…pasrah akhirnya adalah satu-satunya kesimpulan terbijak yang mampu kubuat pada saat ini. Tentu saja aku sadar akan segala konsekuensinya, toh bernafas pun ada resikonya. Jika “Pulang” nanti aku sudah siap untuk hancur dan lebur di sana. Menamatkan usia dalam rasa sakit, toh inilah jalan takdirku. Amor fati….amorfati….aku harus menerima dan mencintai takdirku, seperti Sisipus dalam mitologi Yunani yang terus saja menggulingkan batu besarnya ke puncak bukit meskipun batu itu tidak akan pernah bergerak ke mana-mana sebagai bentuk pemberontakan dan kecintaannya terhadap takdirnya.

Kereta terus melaju kea rah Barat. Sosokmu terus saja berkelebatan menghajar ingatan. Senyum, tawa, cemberut, meringis, menangis, marah dalam berbagai bentuk dan rupa berlintasan serupa slide show di dalam benakku. Sebatang rokok tak berhasil menindas eksistensimu dari dalam ingatanku. Sewaktu kereta meninggalkan Purwokerto di kiri jalur kereta aku melihat hutan pinus yang lebat. Entah mengapa, butan pinus begitu mempesona dan mengingatkan aku pada suatu malam di tahun 2001. Setiap kali melintas atau sekedar melihat hutan pinus pikiran dan perasaanku terbang kembali ke masa itu, seorang perempuan cantik tapi kurus saling berbagi kekuatan denganku lewat genggam erat telapak tangan menyusuri hutan pinus, dan jalan setapak yang licin dan gelap. Betapa aku merasa beruntung pernah diberi kesempatan untuk berkenalan dan jatuh cinta kepadanya, meskipun takdir dan waktu tak pernah berpihak kepadaku. Toh, tidak semua hal yang kita inginkan bisa kita dapatkan.

Kereta terus Melaju ke arah Barat, semakin jauh meninggalkan Jogja yang tentu saja tak pernah merasa kehilangan atas kepergianku. Getir, sementara aku terus saja merasa terluka mengetahui kenyataan bahwa Jogja bukanlah Jogja yang sama dengan Jogja yang pernah kukenal dulu. Kali ini aku tidak mau terlelap dan tidur. Aku ingin menikmati setiap detik dan setiap jengkal perpisahan ini. Ah…sudahlah. Tak perlu secengeng ini.

Memasuki Karawang, Lemah Abang, Buaran, Jati Negara. Aku turun di stasiun ini, membawa semua barang bawaanku yang terasa semakin berat oleh semua cerita yang kali ini mau tidak mau harus kusebut “Kenangan”. Tas kamera menyilang di pundakku, ransel menggelayut manja di punggungku dan sebuah travelling bag beroda kuseret dengan sejuta kenangan itu.

Tadi pagi aku berangkat ke Stasiun Tugu, dan kau berangkat ke kantor, sebentar lagi kau mungkin akan pulang kerumah dan aku sudah sampai di Jakarta, mungkin dalam beberapa hari lagi aku sudah tiba di medan, lalu menempuh perjalanan 1.5 jam menuju Berastagi. Betapa cepat hidup berpindah dan berlalu, lalu kita sadar bahwa kita belum beranjak ke mana-mana dan belum berhasil menjadi siapa-siapa.

Aku akan pulang, meskipun “pulang”: bukanlah sebuah pilihan bijak mengingat semua yang terjadi belakangan ini. Ya aku berani menanggung semua akibatnya. Padove ti puerta il cuore, pergilah ke mana hati membawamu, itu hal yang sangat mudah untuk kulakukan pada saat ini, tinggal kembali ke Jogja saja. Tapi, maaf untukmu orang Italia yang sok bijak menciptakan kata-kata bijaksana ini, aku akan pergi ke arah yang berlawanana dengan kehendak hatiku. Aku akan kembali ke pelukan dia yang telah kupilih dengan sadar untuk menemami hatiku merenangi genangan hidup yang keruh ini. Ya, aku tetap berani mengatakan ”ya” terhadap panggilan takdirku. Dan Kau, aku menantangmu. Baiklah aku akan bertahan dan kembali pulang. Akan kulihat batas kemampuanmu, sampai kapan kau akan sanggup merajut temali dalam diam dan mendekapku dengan belati yang kau selipkan di balik punggungmu. Jogja telah memberiku kekuatan yang lebih dari yang kubutuhkan. Tikam…o…tikamlah aku. Kita akan lihat siapa yang akan bertahan sampai akhir nanti.

Jakarta yang panas dan ganas….adakah kau segarang dan sekeras kepala pendirianku? Kita akan lihat dalam beberapa hari ke depan.

Jumat, 01 Januari 2010

Membangun Kekuatan Ekonomi Melalui Konsep Wawasan Kebangsaan

Perusahaan minyak raksasa di beberapa Negara di dunia telah menjadikan 3,5 miliar rakyat di Negara pemilik sumberdaya mineral tersebut justru melarat. Negara maju hanya menginginkan Negara berkembang membuka pasar bagi produk-produk mereka, sementara di sisi lain mereka menutup pasar mereka dari komoditas andalan Negara-negara berkembang.”

Dalam pertemuan World Trade Organisation (WTO) tahun 2003 di Cancun, Mexico, Negara-negara maju bersikeras untuk mempertahankan politik proteksionismenya. Bersamaan dengan itu, mereka menuntut supaya Negara-negara dunia ketiga membuka lebar-lebar pasar dalam negeri bagi produksi pangan negeri-negeri imperialis yang berlebihan, dengan harga lebih murah dari pada produksi dalam negeri. Tentu saja hal itu telah menghancurkan kehidupan kaum tani di negeri-negeri berkembang.
Beberapa bulan yang lalu, saya terkejut membaca status salah seorang teman kuliah dulu di facebook, dia menulis seperti ini, “Baru tahu saya, ternyata laut Indonesia sudah tidak asin lagi, pemerintah telah mengimpor garam senilai 900 Miliar Rupiah.” Sepintas lalu, tulisan itu terkesan ringan dan agak berolok-olok tapi sesungguhnya bisa menjadi masalah yang sangat serius dan berdampak buruk bagi kehidupan nasional. Kita perlu tahu bahwa pabrik gula di dalam negeri telah ambruk oleh kebijakan pemerintah yang mengimpor gula dari Thailand, petani tebu dalam negeri gulung tikar. Tindakan mengimpor produk yang sebenarnya diproduksi oleh produsen dalam negeri bukanlah tindakan yang bijaksana, karena tindakan tersebut berakibat pada menumpuknya kapital di luar negeri, bila kapital menumpuk, maka akan diupayakan peningkatan jumlah produksi. Ada dua cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan jumlah produksi, yang pertama adalah menambah jam kerja dan menaikkan gaji karyawan, dan yang kedua adalah ekspansi atau perluasan perusahaan yang artinya membuka kesempatan kerja terhadap tenaga kerja usia produktif yang masih menganggur. Kenaikan upah bagi para karyawan dan penambahan insentif dari penambahan jam kerja (lembur) serta terbukanya kesempatan kerja akan membawa sebuah konsekuensi logis, yaitu naiknya tingkat kemakmuran. Dampak dari naiknya tingkat kemakmuran itu adalah meningkatnya daya beli rakyat, bila daya beli rakyat naik, maka beban Negara berupa subsidi untuk beberapa komoditi dapat diminimalisir. Ibarat pedang bermata dua. Tindakan mengimpor barang yang sesungguhnya diproduksi oleh produsen dalam negeri akan berdampak positif bagi Negara pengekspor dan di sisi lain berdampak buruk terhadap produsen dalam negeri dan mempersempit kesempatan kerja terhadap tenaga kerja usia produktif di dalam negeri, sehingga tidak heran bila arus tenaga kerja Indonesia untuk mengais rejeki di negeri orang terus mengalir dan bertambah dari tahun ke tahun.
Regulasi dan mekanisme pasar dunia yang diatur oleh lembaga-lembaga imperialis internasional di jaman modern ini sama saja polanya seperti di jaman kolonial. Dimasa pendudukan Belanda, sebagian besar Pulau Jawa disulap menjadi ladang tebu raksasa yang luar biasa luasnya. Rakyat dipaksa menyewakan tanah mereka kepada pihak perkebunan (VOC) dan mereka didaulat menjadi buruh di atas tanah milik mereka sendiri. Ada sebuah system yang memaksa rakyat untuk tunduk terhadap kemauan pemerintah colonial. Rakyat yang membangkang, tidak mau menyewakan tanahnya kepada pihak perkebunan akan mendapat tekanan dari penguasa local. Rakyat yang membangkang akan dikenai pajak (upeti) yang tinggi, melebihi hasil panennya. Bila si petani sudah tidak sanggup lagi membayarkan upeti maka lahan pertaniannya akan diambil secara paksa, atau dipaksa menandatangani perjanjian kontrak dengan pihak perkebunan. Pabrik-pabrik gula di pulau jawa tersebut menghasilkan keuntungan jutaan Gulden bagi Negara Belanda. Dari dulu hingga sekarang, Negara-negara maju menempatkan Negara-negara dunia ketiga sebagai basis untuk mendapatkan sumber bahan mentah dan tenaga kerja yang murah serta sebagai basis pasar yang cukup potensial untuk memasarkan produk-produk mereka.
Negara-negara maju terus saja menyalurkan bantuan ekonomi kepada Negara-negara berkembang, akan tetapi, rakyat di Negara-negara dunia ketiga tidak akan bias mengembangkan ekonomi nasional mereka dengan menerima segala bentuk bantuan ekonomi tersebut, karena bantuan yang disalurkan melalui lembaga-lembaga imperialis seperti World Bank, International Monetery Fund, dan lain sebagainya, hakekatnya hanya mempunyai satu tujuan, yaitu mengembalikan hutang dan bunganya, yang sebetulnya sampai kapanpun tidak akan pernah bias terlunasi.
Pinjaman atau bantuan itu hanya ditujukan untuk membangun jalan, membangun jembatan, membangun hotel-hotel untuk pariwisata, membangun gedung-gedung megah, artinya bukan untuk proyek-proyek produktif dan mempunyai andil terhadap kemajuan dan perkembvangan ekonomi nasional. Di samping itu, bantuan tidak akan pernah diberikan tanpa syarat atau ikatan baik ikatan politik maupun ekonomi yang pada hakekatnya selalu menguntungkan Negara-negara imperialis. Singkatnya, dibalik pemberian bantuan ekonomi tersebut, selalu terselip pesan ideology dari lembaga pemberi bantuan tersebut. Sudah bisa dipastikan bahwa mereka tidak akan menggunakan uangnya untuk mendidik calon-calon pemikir dan pengkritik politik ekonomi dan kebijakan moneter maupun fiskal yang sedang dan akan diparktikkan oleh World Bank, International Monetery Fund (IMF), World Trade Organisation (WTO).
2010 sudah tinggal hitungan bulan saja. Bila saat itu tiba, siap tidak siap kita harus menyambut kedatangan era perdagangan bebas. Saat itu pajak ataupun bea masuk barang-barang impor adalah 0%. Artinya semua barang-barang impor yang selama ini dikenakan bea masuk sebesar 20% akan dibebaskan dari kutipan apapun. Pada era perdagangan bebas itu nanti, pemerintah tidak akan dapat melakukan apapun untuk memproteksi produsen dalam negeri yang selama ini dilakukan dengan pembatasan quota barang-barang import dan mengenakan bea masuk sebesar 20%. Mungkinkah Negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia mencapai tingkat perkembangan ekonomi yang akan mengubahnya menjadi macan industru baru dan memberinya satu taraf hidup setara dengan rakyat di Eropa Barat sana melalui jalan kapitalisme? Satu pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin saya jawab karena jawaban pastinya adalah tidak.
Satu-satunya jalan yang memungkinkan Negara-negara dunia ketiga lepas dari jeratan kaum imperialis adalah meningkatkan produksi nasional untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Rayat di Negara-negara berkembang harus belajar untuk memproduksi segala macam kebutuhan, termasuk yang bersifat primer, sekunder maupun tersier. Saya pernah berandai-andai, apa yang akan terjadi bila rakyat dan pemerintah hanya membeli produksi dalam negeri dan hanya membeli produk impor yang produk sejenisnya tidak dihasilkan oleh produsen dalam negeri. Berapa juta tenaga kerja usia produktif yang dapat dipekerjakan, sehingga arus pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Negara lain bisa diminimalisir. Sudah begitu hambarkah air laut Indonesia sehingga pemerintah merasa perlu untuk mengimpor garam senilai 900 miliar Rupiah? Sudah begitu rendahnyakah kandungan Vitamin C jeruk Indonesia sehingga orang-orang merasa perlu untuk membeli jeruk hongkong? Sudah begitu busuknyakah apel batu, Malang sehingga kita terus saja membeli Red Delicious?
Menurut saya, hal yang paling mendasar yang harus dilakukan untuk keluar dari segala krisis yang disebabkan oleh lembaga dan Negara-negara imperialis tersebut adalah reindoktrinasi wawasan kebangsaan. Wawasan kebangsaan sekilas pandang hampir sama dengan wawasan Nusantara, tapi pada dasarnya sangat berbeda. Wawasan Nusantara ciptaan rejim Militeris-fasis Soeharto menitik beratkan tujuannya kepada keutuhan wilayah. Cara apapun akan ditempuh, termasuk jalan kekerasan seperti yang dipraktikkan pada tahun 1965-1998 untuk mempertahankan keutuhan wilayah Indonesia, sementara wawasan kebangsaan lebih menitikberatkan tujuannya pada kesatuan ide, kesatuan tujuan, kesatuan tekad, kesatuan rasa bahwa kita adalah satu, Indonesia. Wawasan kebangsaan bergerak untuk memperbaharui mental dan menciptakan manusia-manusia patriot yang mau melakukan apapun demi kemajuan Negara. Inilah masalah terbesar negeri ini. Praktik kapitalisme dan serangan pasar yang gila-gilaan telah membuat rakyat Indonesia cenderung bersifat konsumeris, individualis dan apatis.
Melalui konsep wawasan kebangsaan tersebut, maka rakyat Indonesia akan kembali tumbuh kecintaanya terhadap segala hal yang berbau keindonesiaan. Bila sudah tumbuh kecintaan terhadap segala hal yang berbau keindonesiaan kita akan mempercepat produksi dalam negeri dan berusaha untuk memproduksi sendiri segala macam kebutuhan hidup dan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap produk impor yang nyata-nyata telah membunuh produksi dalam negeri dan menutup rapat-rapat kesempatan kerja bagi tenaga kerja usia produktif. Jadi, kalau ada semacam anggapan bahwa kecintaan terhadap Negara tidak akan berdampak apa-apa terhadap produksi dalam negeri dan tidak mempunyai andil dalam peningkatan tingkat pendapatan rakyat, maka inilah antitesis dari anggapan yang tersebut itu.
Tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga telah memanggil saya untuk kembali ke dunia kerja. Seorang klien datang dengan konsep-konsep advertisingnya meminta saya untuk membuatkan desain brosur dan pamphlet. Maaf, saya harus mengakhiri tulisan yang masih kurang sempurna ini. Salam.

Sabtu, 05 September 2009

Membaca Gelagat di Balik Provokasi Malaysia

Sejak awal berdirinya Negara Malaysia sudah membuat gerah dan panas hati Presiden Soekarno dan rakyat Indonesia. Karena proses perundingan mengenai batas-batas wilayah sedang berlangsung dan Pemimpin Malaysia dengan Presiden Soekarno pun telah sepakat bahwa sebelum perundingan mengenai batas wilayah tersebut disepakati maka Malaysia belum akan memerdekakan diri.

Tapi, perjanjian tinggallah perjanjian, nyatanya Malaysia di bawah pengaruh dan desakan Inggris tetap menyatakan kemerdekaannya meskipun batas-batas territorial belum selesai dibicarakan. Inggris-Amerika tampaknya semakin khawatir dengan perkembangan Partai Komunis Indonesia yang kian hari semakin besar dan luas pengaruhnya belum lagi soal isu adanya poros Moskow-Peking-Jakarta yang menempatkan Indonesia sebagai wilayah strategis penyebaran ideologi komunisme di Asia Tenggara. Vietnam, Kamboja dan sebagian Myanmar pun telah secara terang-terangan menyatakan kiblatnya ke arah blok Timur. Melihat perkembangan yang semakin tidak menguntungkan bagi blok Barat, maka Inggris sebagai penjajah Malaya dan Amerika sebagai sekutunya merasa perlu untuk segera memerdekakan Malaysia mengingat jarak geografis yang begitu dekat dengan Indonesia yang sedikit demi sedikit cenderung kearah KIRI. Malaysia, letaknya begitu strategis, menjadi jalur transportasi laut yang utama menuju Asia tenggara. Pemerdekaan Malaysia oleh Inggris adalah langkah yang paling strategis dan mendesak untuk dilaksanakan, untuk kemudian dijadikan sebagai Negara satelit blok Barat guna memantau perkembangan di Indonesia sekaligus dijadikan basis perlawanan terhadap penyebaran ideology komunisme dari Indonesia ke Negara-negara Asia Tenggara lainnya, maupun dari negeri Tiongkok sana.

Presiden Soekarno merasa gerah karena pemimpin Malaysia melanggar perjanjian yang sudah disepakati akhirnya mengeluarkan kebijakan ganyang Malaysia yang berujung pada dikeluarkannya Indonesia dari keanggotaan PBB yang berdampak pada melemahnya posisi tawar dan loby-loby politik Indonesia di tingkat internasional. Malaysia memainkan peran Penting seperti yang diharapkan oleh Inggris dan sekutu-sekutunya yaitu untuk menyibukkan Indonesia dengan kemarahannya terhadap Malaysia, dengan begitu masalah penyebaran ideology komunisme di wilayah Indonesia bisa ditunda untuk beberapa saat lamanya. Dampaknya begitu luas. Terjadi perpecahan di tubuh angkatan perang, karena sebagian besar petinggi angkatan perang tidak setuju untuk mengganyang Malaysia karena mereka insyaf di belakang Malaysia berdiri pasukan Inggris yang bukan main perkasanya di lautan. Begitu Malaysia diserang, maka mereka akan mempunyai alasan untuk memborbandir dan meluluh lantakkan Indonesia. Tapi PKI mendukung kebijakan ganyang Malaysia tersebut. Maka Konflik yang semula hanya terjadi di tubuh angkatan perang meluas menjadi sentimen antara angkatan perang, terutama Angkatan Darat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Apalagi ketika PKI menuduh bahwa Angkatan Darat berperang dengan setengah hati di pulau Borneo. Inilah cikal bakal konflik antara Angkatan Darat dengan PKI yang mencapai puncaknya pada September 1965. Malaysia sebagai Negara satelit Blok Barat berhasil memainkan perannya secara gilang gemilang untuk membendung meluasnya pengaruh komunisme di Asia Tenggara, khusunya di Indonesia. Lalu, Amerika dan Inggris mulai memainkan perannya secara langsung ke Indonesia untuk menghancurkan faham komunisme dengan memfasilitasi penumpasan sisa-sisa anggota PKI yang memakan korban jiwa hampir satu juta massa. Soeharto dan Angkatan Darat mengklaim Bahwa gerakan ataupun pembantain terhadap anggota PKI tersebut murni sebagai sebuah tindakan spontanitas rakyat yang marah atas Cup d etat dan pembunuhan sadis yang dilakukan oleh PKI. Tapi, marilah kita lihat ke belakang. Apakah mungkin tindakan pembantain itu dapat dikatakan benar-benar bersifat spontan mengingat pembantaian terhadap anggota PKI di Jawa Tengah Berlangsung selama Bulan Oktober 1965, Di Jawa Timur November 1965, dan di Bali Desember 1965. Pembantaian yang berlangsung selama tiga bulan tersebut memunculkan sebuah dugaan bahwa aksi pembantaian tersebut difasilitasi dan dimobilisasi secara terencana, dan pelakunya tetap sama, baik yang melakukan pembantaian di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali orangnya ya itu-itu saja.

Soeharto sangat anti dengan komunis, bukan komunisme sebagai ideology, tetapi komunis sebagai sebuah partai yang mempunyai massa dan pengaruh yang begitu besarnya, apalagi setelah munculnya wacana untuk mempersenjatai kaum tani sebagai angkatan ke-lima sebagai pasukan cadangan yang akan dipersiapkan untuk mengganyang Malaysia jelas-jelas memperlemah posisi Angkatan Darat. Apalagi Presiden Soekarno pun terang-terangan mengecam sikap pengecut Angkatan Darat dan memberikan simpati kepada PKI yang mendukung kebijakan ganyang Malaysia tersebut. Saya tidak bermaksud untuk membongkar tragedi berdarah 1965, siapa pelakunya dan apa tujuannya, karena begitu gelap misteri seputar tragedi berdarah itu. Tapi, satu hal yang menurut saya menarik untuk dicermati adalah. Pasca naiknya Soeharto menjadi Presiden ke-dua Republik Indonesia, Union Texas Oil, Caltex dan PT. Freeport Indonesia berdiri dengan megahnya untuk menghisapi sumber daya mineral negeri ini. Lalu, belasan perusahaan asing berlomba-lomba menancapkan tentakel raksasanya dan dengan rakus menghisapi kekayaan sumber daya alam kita. Sebuah pertanyaan spekulatif coba saya lontarkan. Mengapa perusahaan pertambangan raksasa itu tumbuh seperti jamur di musim hujan ketika Soekarno baru saja lengser dari singgasana kepresidenan? Sungguh, di Indonesia, tahun 1965 adalah titik balik kemenangan kapital dan bedil.

Provokasi Malaysia di masa lalu telah berhasil membuat Indonesia dikeluarkan dari anggota PBB, melemahkan posisi tawar dan loby-loby politik Indonesia di tingkat internasional, memecah belah dan menimbulkan kecurigaan di tubuh angkatan perang, angkatan perang dengan PKI dan angkatan perang dengan presiden selaku panglima tertinggi angkatan perang. Provokasi Malaysia di masa lalu telah berhasil melengserkan presiden Soekarno dari kursi kepresidenan dan mengangkat Soeharto menjadi presiden kedua Republik Indonesia, mendorong berdirinya perusahaan pertambangan asing yang pada akhirnya menyebabkan penderitaan bagi jutaan rakyat Indonesia.

Kita perlu mencermati, ada apa di balik provokasi Malaysia yang sudah beberapa kali terjadi belakangan ini, dari klaim-mengklaim wilayah, kebudayaan, sampai pada mengklaim kesenian kita. Baru saja Malaysia meminta maaf karena mengklaim blok ambalat masuk ke dalam wilayah territorial mereka, mereka mulai lagi mengklaim tari pendet. Baru saja Malaysia meminta maaf karena telah mengklaim tari pendet, sekarang mereka mengklaim pulau jemur di kepulauan Riau masuk ke dalam wilayah mereka. Ingat kasus Sipadan-Ligitan. Bila jalan yang ditempuh untuk menyelesaikan sengketa ini adalah dengan berunding. Ingat-ingatlah ini. Konferensi Linggar jati yang membahas batas garis demarkasi berakhir dengan menyempitnya wilayah teritori Republik, Konferensi Meja Bundar berakhir dengan segala hutang luar negeri Negara Hindia Belanda menjadi hutang luar negeri Republik Indonesia Serikat, Perundingan mengenai batas wilayah dengan Malaysia berakhir dengan lepasnya pulau sipadan dan ligitan dari pangkuan bumi pertiwi. Perundingan haruslah dijadikan sebagai jalan yang tidak akan pernah ditempuh dalam menyelesaikan konflik dengan Malaysia.

Apa tujuan provokasi Malaysia kali ini? Jikalau yang dijadikan sebagai sasaran adalah untuk melengserkan SBY, tidak mungkin karena Presiden kita ini dekat dengan Amerika-Inggris, bahkan Partai yang dia pimpin saja sama dengan partai penguasa di negeri paman Sam sana. Jika yang dijadikan sasaran adalah sumber daya mineral, tidak mungkin juga karena sumber daya mineral kita sudah habis dihisapi Union Texas Oil, CALTEX, Pt. Freeport Indonesia dan lain-lainnya itu. Jangan bilang tidak. Pasti ada. Pasti ada beberapa hal yang menjadi tujuan dibalik peristiwa provokasi Malaysia ini. Dan, apapun tujuan itu, pastilah berbicara tentang kepentingan Inggris-Amerika dan sekutu-sekutunya.Ditengah klaim-mengklaim yang sedang gencar-gencarnya dilancarkan Malaysia, pemimpin Negara ini, Presiden Republik Indonesia justru rebut-ribut dengan kebijakan politiknya, sibuk membela namanya dari cemoohan rakyatnya sendiri, sibuk dengan kasus-kasus manipulatif untuk membingungkan rakyatnya sendiri. Malah belakangan muncul wacana untuk membuat undang-undang kerahasiaan Negara. Untuk apa??!! Negara kita telah diinjak-injak kedaulatannya oleh Malaysia. Mengapa masih saja sibuk mengurusi partai, mengurusi penunjukan ketua DPR yang seharusnya menjadi hak mutlak lembaga legislative. Pemerintah, dalam hal ini sama sekali tidak jeli dalam menanggapi dan mencermati motif provokasi Malaysia kali ini. Tetap saja mengedepankan jalan diplomasi. Saya tekankan sekali lagi. Diplomasi adalah satu-satunya jalan yang tidak boleh ditempuh untuk menyelesaikan konflik dengan Malaysia yang telah berulang kali menginjak-injak kedaulatan Republik ini. Inggris-Amerika pasti ada dibelakang mereka. Tapi, takutkah kita? Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup tanpa kehormatan dan kedaulatan. Rakyat bertanya. Berapa Anggaran pemerintah untuk pendidikan? 20 % kata pemerintah. Itu kan data statistik. Rakyat bertanya lagi, berapa dana APBN? Dan berapa dialokasikan untuk dunia pendidikan? Berapa untuk bidang kesehatan? Tapi saya tidak bertanya seperti itu. Saya bertanya, berapa milyar dana yang dikeluarkan pemerintah untuk AKMIL, AAU, AAL, AKPOL? Uang yang begitu banyak dihabiskan hanya untuk menciptakan prajurit karir yang hanya tahu soal jabatan dan tempat duduk dibalik meja tapi tanpa nasionalisme dan sikap patriotisme. Kita harus dapat bertindak dengan cepat dan tepat untuk mengetahui apa gerangan motif dari provokasi Malaysia kali ini.

Minggu, 16 Agustus 2009


REFLEKSI KEMERDEKAAN
Feri Suranta Ginting*
Tadi siang, ketika saya berangkat ke warnet untuk menyelesaikan tulisan ini, saya melihat seorang bocah laki-laki berlari-lari di tengah hujan lebat. Bocah itu tidak mengenakan selembar pakaian pun di tubuhnya yang ringkih. Di tangan kirinya dia memegang 1 sachet shampoo. Dia berlari-lari kian kemari dengan riangnya. Hampir di setiap pancuran talang air dia berhenti sejenak, membiarkan tubuhnya dibasahi oleh air hujan yang mungkin akan membuatnya demam nantinya. Dia begitu gembira bermandikan air hujan, dia merasa lepas dan bebas, aku dapat merasakan kegembiraan yang teramat sangat dari sorot matanya yang jenaka dan senyum lebar pada bibirnya. Begitu gembiranya si bocah yang telanjang bermandikan air hujan itu, hingga dia lupa akan hukuman apa yang akan dia dapatkan nanti bila kedua orang tuanya mengetahui perbuatan yang sedang ia lakukan sekarang ini. Mungkin si bocah akan mendapatkan 2 sampai 3 pukulan rotan pada betisnya. Ia tidak peduli, yang ada dikepalanya saat ini hanyalah kebahagiaan dan kebebasan yang jarang ia dapatkan.
16 Agustus 2009, besok, ya besok pagi kita akan merayakan hari kemerdekaan kita yang ke-64 kalinya. Sudah sejauh itu perjalanan Negara-Bangsa ini dalam udara kemerdekaan. Tadi Pagi salah seorang teman menuliskan bahwa PROKLAMASI KEMERDEKAAN 17 08 1945 TIDAK LEBIH DARI SEREMONI "PEMINDAHAN KEKUASAAN" BELAKA. Mungkin yang dimaksud oleh kawan itu adalah bahwa peristiwa proklamasi 1945 itu hanyalah pemindahan tangan kekuasaan dari kolonialis dan borjuasi asing kepada borjuasi nasional yang pada prinsipnya sama saja ganas dan rakusnya dengan penguasa kolonial. Sebagian kelompok lagi memaknai bahwa kemerdekaan yang kita raih ini adalah buah dari perjuangan dan bukan hadiah dari bangsa manapun. Saya tidak mau terjebak dalam polemik dan perdebatan semacam itu. Terserah, bagaimanapun kita memaknai Proklamasi kemerdekaan tersebut. Saya hanya ingin mengkaji makna "MERDEKA" itu sendiri.
Proklamasi kemerdekaan 1945 (Terlepas dari bagaimana cara kita memaknainya) adalah sebuah pijakan awal dalam perjalanan Bangsa ini. Pada paragraph awal tulisan ini saya bercerita tentang seorang bocah laki-laki yang bebas berlarian mandi air hujan, tak ada yang melarang, tidak ada yang mengekang. Begitu bebas dan bahagianya sibocah itu. Tidak usah terlalu akademis dan tinggi obrolan tentang makna Merdeka itu, kita maknai saja secara sederhana dan ringan. Menurut saya, dan mungkin menurut semua manusia yang berpikir merdeka itu pastilah berbicara tentang kebebasan, tanpa kekangan, tanpa campur tangan dan intervensi pihak asing. Sebuah Negara dapat dikatakan merdeka bila Negara tersebut sudah berhak menentukan arah kebijakan dan mengatur rumah tangganya sendiri baik yang menyangkut tentang kebijaksanaan politik dalam negeri dan pergaulan internasionalnya.
Sejak berdirinya Bangsa-Negara ini sebagai sebuah Negara yang berdaulat, kita tidak pernah lepas dari intervensi dan campur tangan pihak asing. 3 tahun sejak peristiwa Proklamasi kemerdekaan, tepatnya Desember 1948, Belanda kembali melancarkan Agresi Militernya untuk merongrong kedaulatan Republik tercinta ini. Pasca Konfrensi Meja Bundar yang difasilitasi Amerika konflik antara Indonesia dan Belanda mereda dengan satu kerugian besar dipihak kita, karena salah satu butir konfrensi meja bundar adalah bahwa seluruh hutang luar negeri Negara Hindia Belanda ditanggung oleh Republik Indonesia serikat. Lalu, Amerika dengan cerdik memanfaatkan ketidak puasan beberapa petinggi militer di daerah yang kecewa terhadap para petinggi militer di Ibu Kota (baca : Pulau Jawa), Amerika memfassilitasi para petinggi militer di daerah-daerah untuk melancarkan pemberontakan. Karena menurut logika mereka lebih baik Indonesia tercerai-berai dan hancur tapi mereka mendapatkan sedikit wilayah yang berpihak kepada blok barat. Mereka agaknya trauma dengan kejadian di China sana, mereka tetap ingin mempertahankan keutuhan China. Mereka memang berhasil mempertahankan keutuhan wilayah China, tapi kemudian China malah berpihak ke blok timurnya Soviet. Seandainya mereka memfasilitasi perjuangan Sun Yat Sen mungkin China akan terbelah menjadi dua bagian, seperti yang terjadi atas Seoul dan Pyong yang. Belum Lagi kasus pemberontakan petinggi militer di daerah berhasil dipadamkam, Inggris pun tidak ketinggalan memprovokasi Republik tercinta ini dengan Memerdekakan Malaya (Malaysia) yang menurut Soekarno masih merupakan wilayah kedaulatan Indonesia. Presiden Soekarno marah dan mengeluarkan kebijakan ganyang Malaysia. Kembali, perpecahan di tubuh militer terjadi, Sebagian besar petinggi angkatan perang tidak setuju untuk mengganyang Malaysia, karena mereka insyaf bahwa militer kita pasti akan berhadapan dengan armada perang Inggris yang bukan main perkasanya di lautan. Soekarno kecewa dengan sifat pengecut para petinggi angkatan perangnya, maka mulailah Soekarno mendekati PKI partai yang memiliki massa paling besar pada masa itu, kebetulan PKI pada saat itu tengah terjepit posisinya. PKI mendukung kebijakan Ganyang Malaysia. Akibat kebijakan tersebut Republik Indonesia dikeluarkan dari PBB, tentu hal ini akan berdampak pada melemahnya posisi tawar dan loby-loby kita di tingkat internasional.
Pasca Krisis Moneter 1998, lembaga moneter internasional (Internatinal Monetery Fund, World Bank, Asian Development Bank) semakin dalam mengintervensi kebijakan-kebijakan penguasa lokal (presiden) bukan hanya mengintervensi kebijakan yang berhubungan dengan kebijakan fiscal dan moneter, tapi juga menjalar kebidang-bidang yang lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan fiscal dan moneter. Wajar memang, mereka telah menyalurkan bantuan yang jumlahnya tidak sedikit, maka intervensi kebijakan tersebut dianggap sebagai balas jasa yang setimpal.
Dari Intervensi asing kita beralih kepada penguasa lokal. Di negeri yang sudah mencecap alam kemerdekaan 64 tahun lamanya ini rakyat demikian tidak berdayanya. Segala keputusan atau kebijakan dan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh penguasa sama sekali tidak pernah berpihak kepada rakyat kecil. Undang-undang ketenagakerjaan yang seharusnya berpihak kepada para buruh justru berpihak kepada para penyelenggara kerja (artinya pemilik modal, pemilik pabrik, pemilik perusahaan), Undang-undang pendidikan yang seharusnya berpihak kepada para peserta didik (Baca: Siswa dan Mahasiswa) malah berpihak kepada lembaga / institusi penyelenggara pendidikan (Baca : Yayasan), Undang-undang pertanian yang semestinya berpihak kepada para petani dan buruh tani malah berpihak kepada pihak perkebunan yang membawa kita kembali kepada model-model penjajahan. Rakyat yang seharusnya dilibatkan di dalam proses pembuatan keputusan karena merekalah obyek yang paling merasakan dampak dari kebijakan tersebut justru ditempatkan di wilayah yang paling marginal.
Sudah 64 tahun kita merdeka (katanya) tapi mengapa selalu saja kita belum bisa lepas dan bebas dari campur tangan asing yang memegang rotan di tangan kanannya untuk melibas betis kita, yang tidak akan pernah membiarkan kita bebas menentukan arah kebijakan dan mengatur rumah tangga kita sendiri sebebas bocah laki-laki yang begitu lepasnya mandi air hujan.
Agaknya, pendapat seorang teman yang menuliskan bahwa proklamasi kemerdekaan 1945 hanyalah sebuah prosesi pemindatangan kekuasaan dari penguasa kolonial kepada para penguasa pribumi yang sama saja ganas dan rakusnya dengan penguasa kolonial dan mereka tetap bekerja sama untuk menentukan arah perjalanan Bangsa yang (katanya) sudah merdeka ini ada benarnya.
Jadi, sudahkah kita merdeka? Sudahkah kita berdaulat dan berhak menentukan arah kebijakan dan mengatur rumah tangga kita sendiri baik menyangkut kehidupan dalam negeri maupun pergaulan internasional? Dengan berat hati saya terpaksa mengatakan, kita pernah merdeka. Ya kita pernah merdeka. Dulu….dulu sekali….M…E….R….D…E….K….A.....(KAN INDONESIA SEUTUHNYA).

*Feri Suranta Ginting adalah seorang penulis jenaka yang
Memiliki selera humor yang kelewatan. Mengemas tulisannya
Dengan gaya yang ringan, lugas dan santai.

Jumat, 31 Juli 2009

Shillouette Wajah di Tembok Dekat Rak Buku

kau..
pernah...
ada disini...
di dalam ruangan....
3 X 3 Meter yang pengap..
bercat biru tua dengan penerangan seadanya...
silhoutte wajahmu membekas di tembok dekat rak buku..

sekarang...
kau ada di sini...
dalam kenangan yang menyebalkan...
begitu keras kepalanya bayangmu mendiami memori...
enggan enyah walau telah berjuta kali kuhalau membuatku galau...
hati yang demikian sempit tak cukup menyimpan jejak-jejak tawamu..
bau parfum murahanmu tetap nempel alat penciuman
bahkan desah nafasmu masih dapat kuhafal satu per satu
724 kali kau hela nafas 723 kali kau hembuskan kala kau duduk meneliti rak buku

kau...
pernah...
ada di sini....
tapi sekarang...
aku tak dapat....
melacak jejakmu...
kau jauh....jauh di sana...
terselip di lipatan hati laki-laki yang tak terdeteksi
tak terjejaki, tak terbaui
hanya dapat kupandangi shiloutte wajahmu di tembok dekat rak buku
telah terlukis dalam imaji
takkan hapus...
karena kulukis dengan darah perawanmu
meskipun pada akhirnya
kita saling menyakiti
tapi tak mengapa
toh kita telah berbagi
berbagi luka yang kita bungkus dengan canda remaja

Kini...
tubuh mulai merenta...
kita pernah berbagi luka
di ruang tiga kali tiga
kulukai dinding kegadisanmu
dan kau goreskan luka di hatiku dengan kuku-kuku tajam angkuhmu
dan kita saling menertawai
puas atas luka yang kita tinggalkan pada diri kita masing-masing
kita tak tahu cara mencintai
kita hanya tahu cara mengolok-olok luka
sungguh kita adalah pencela luka terhebat didunia

ah....
kau akan kukenang abadi
kulukis wajahmu di dinding tempat dulu shilloutte wajahmu jatuh
di sana kudirikan altar pemujaan
dan kubakar dupa aroma jasmine kesukaanmu
tiga kali sehari
seperti makan obat
kau kusembah sedemikian rupa
padahal takkan hapus luka yang kucipta di dinding kegadisanmu
meskipun aku menyembahmu serupa berhala
tapi terus kulakukan demi mengingatkan jiwaku bahwa aku pernah berbuat kesalahan

Selasa, 28 Juli 2009

untitled

ketika kita berbicara tentang salju dan anak-anak panda yang lahap menyantap pucuk-pucuk bambu muda, kulihat ada semacam gairah di matamu yang bundar dan lebar, kulit pipimu merona dan snyum yang kau kulum pun merekah. Betapa bersemangatnya kau bercerita, padahal kita tak pernah berkunjung ke negeri china sana, tapi entah mengapa kau begitu menyukai panda dan rumpun-rumpun bambu.

Aku bercerita tentang kemiskinan, rumah-rumah kardus dan kebodohan yang begitu akut di atas negeri yang demikian kaya ini. Hoaaaaaaaaaaaa....mmmmmmmmm.....mm kau mengulum bibir dan suaramu. Aku tak tahu apakah kau sedang berusaha menunjukkan kesopananmu dengan sedapat mungkin berusaha untuk tidak menguap atau karena kau belum sikat gigi sehingga kau malu untuk menguap karena takut nafasmu yang bau tercium olehku. Aku tidak tahu, tapi satu hal yang kutahu pasti. Kau bosan mendengar ceritaku yang itu-itu juga, sama seperti aku yang sudah bosan mendengar cerita tentang panda-panda bodohmu yang itu-itu juga.

"Tidak bisakah kita berhenti berbicara tentang kemiskinan yang selalu saja kau ulang-ulang itu?" tanyamu pada suatu waktu

""Baiklah. Kita akan berhenti berbicara tentang kemiskinan itu, tapi kita juga harus berhenti berbicara tentang panda-panda bodohmu."

Kau berbalik memunggungiku dan berjalan ke arah yang tak pernah kuharapkan. Aku kesal, lalu aku berjalan kearah yang bertolak belakang dengan arah yang kau tempuh. Sungguh indah, dua gerak berlawanan terjadi sekaligus dalam waktu yang bersamaan. sama seperti gerak matahari senja dan tiang-tiang listrik yang berbaris beraturan. Semakin jauh matahari senja bergerak ke ufuk barat, semakin panjang pula bayangan tiang listrik memanjang ke arah timur, kemudian keduanya mengabur, meruap dan hilang. Kita pun akan saling melupakan dan menindas memori yang mungkin tersimpan. Kau akan kawin dan beranak pinak dengan orang yang dengan sabar mendengar cerita tentang panda-panda tololmu, dan aku akan memenuhi bumi dengan keturunanku, karena aku pun akan kawin dengan seorang perempuan yang mau mendengar cerita tentang kemiskinan dan rumah-rumah kardusku.Mungkinkah suatu waktu nanti aku akan mencintai panda, atau sebaliknya, mungkinkah pada suatu waktu nanti kau akan mempunyai kepedulian terhadap masalah kemiskinan? Ah......itu pertanyaan kanak-kanak, terlalu dangkal dan terlalu umum. tidak ada hubungan yang mempersatukan keduanya, kalaupun ada, itu hanyalah keterkaitan yang dibuat-buat saja.

Panda-panda bodohmu adanya di kebun-kebun binatang dan taman-taman nasional yang dilindungi oleh pemerintah. orang-orang miskin, gelandangan dan anak-anak yang tidak sekolah milikku adanya di emperan toko, dikolong jembatan dan di desa-desa tertinggal sama sekali tidak mendapat perlindungan dari pemerintah dan sistem perundang-undangan. Panda-panda gendutmu ditanami pohon-pohon bambunya, sementara orang-orang miskinku dirampas hak-haknya sebagai warga negara, digusur tempat usahanya, dicabuti tanaman singkongnya dan dirampasi tanahnya. Kau berbicara tentang kemewahan dan aku selalu berbicara tentang perlawanan.

Yogyakarta 2003, lepas senja gerimis menyiram tanah sampai basah. Kurasa kita tak perlu berusaha untuk saling memahami dan mempersatukan dua hal yang tak dapat dipersatukan.Marilah saling menjauhi dan melupakan. Dekaplah panda-panda bodohmu dalam khayal dan aku akan memperjuangkan kemiskinanku dalam kenyataan. Tapi jujur, rasa itu memang pernah ada, hanya saja aku menganggapnya tak pernah ada.

Selasa, 21 Juli 2009

lantai dansa demokrasi

sinar purnama jatuh berserakan di rumpun bambu
seekor anak burung jatuh terkena anak panah
hembus angin kemarau kering dan berat
seberat harap yang sekarat
sekering asap rokok berbau laknat
kegelisahan bukan lagi milik mereka
sejak bangkai perjuangan massa tak lagi dihidupi
kini mereka bebas menari
dilantai dansa demokrasi
demokrasi karya imajinasi mereka sendiri

Kamis, 28 Mei 2009

gado-gado menggoda

UU ketenagakerjaan yang mestinya berpihak kepada pekerja (baca: Buruh) justru memihak kepada para pengusaha, UU Pendidikan yang semestinya berpihak kepada para peserta didik (baca: Siswa dan Mahasiswa) malah berpihak kepada lembaga penyelenggara pendidikan (yayasan), UU pertanian yang seharusnya berpihak kepada para petani dan buruh tani, terutama dalam pengadaan akses menuju areal pertanian (jalan) dan penyaluran pupuk serta irigasi justru malah berpihak kepada kaum pemilik modal yang menjadikan petani begitu sulit menjangkau pasar dari daerah pertaniannya, membuat petani begitu sulit mendapatkan pupuk dan begitu susah mengairi sawahnya, yang terakhir ini adalah sektor yang paling vital bagi pertanian.

ada sebuah kesalahan fatal yang sudah teramat akut di sini, di mana rakyat kecil dijadikan menjadi korban dari produk perundang-undangan, menjadi sangat ironis kemudian kalau kita kembali mengkaji makna sebuah negara. Negara dibentuk berdasarkan kontrak ataupun kesepakatan demi kemakmuran dan keterjaminan hidup bersama. Artinya, sudah semestinya semua produk perundang-undangan berpihak kepada massa rakyatnya, bukannya justru menempatkan rakyatnya di wilayah yang paling margin dan paling menderita akibat segala macam perundang-undangan tersebut.

di masa kampanye pemilihan presiden nanti, saya yakin bahwa kemiskinan dan penderitaan rakyat akan menjadi jualan para kandidat presiden-wakil presiden yang paling seksi dan paling banyak tersentuh dalam pembicaraan. sangat ironis memang, di satu sisi massa rakyat dimiskinkan secara sistematis oleh sebuah lembaga yang bernama negara melalui oknum-oknum penguasa dan kemudian kemiskinan itu akan terus didengung-dengungkan di masa kampanye demi untuk menarik simpati rakyat yang sayangnya tak pernah sadar kalau kemiskinan yang mereka derita sebenarnya adalah tanggung jawab para kandidat tersebut, rakyat tetap saja berhasil diperdaya dengan mulut manis para penguasa. Dalam praktik bernegara dan berdemokrasi tak pernah ada peraturan perundang-undangan yang benar-benar berpihak kepada rakyat, seperti yang telah dipaparkan dalam alinea pertama tulisan ini. UU dibuat hanya untuk melindungi aset dan kepentingan pemilik modal.

Jumat, 24 April 2009

Catatan Seputar Pilpres

Penguasa dinegara manapun dan dengan sistem pemerintahan apapun di dunia ini mempunyai kecenderungan ubtuk mempertahankan status quo demi mengamankan dan melangggengkan kekuasaannya. Dalam Konteks Indonesia praktik tersebut sudah mulai berjalan sejak jaman kerajaan-kerajaan Nusantara, ORde Lama, ORde BAru, sampai sekarang jaman orde yang paling baru.

Presiden Soekarno, Bapak bangsa mengintervensi parlemen sehingga muncullah wacana tentang Presiden seumur hidup, sehingga seolah-olah wacana tentang Presiden seumur hidup itu murni muncul dari Parlemen. Di tingkat massa rakyat wacana itu kemudian menjadi sebuah hal yang bisa diterima, lagipula Soekarno masih disepakati oleh mayoritas rakyat untuk tetap memegang kendali Negara yang sedang be-revolusi.

Sampailah kita pada era pemerintahan Soeharto. Inilah fase tergelap dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Depolitisasi dan demobilisasi massa dipraktikkan secara besar-besaran dan gila-gilaan. Semua kekuatan kritis massa diberantas sampai ke akar-akarnya, oraganisasi, lembaga maupun individu yang berseberangan jalan dengan penguasa dinamai sebagai OTB, KOMUNIS dan “cap” yang terkesan seram, maklumlah ketakutan terhadap faham komunisme (komunisto phobia) telah begitu dalam merasuk ke dalam jiwa rakyat Indonesia. Menggunakan sila ke-4 Pancasila yang berbunyi “Kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” dan ideologi developmentalismenya Soeharto berhasil memenangkan pemilihan presiden selama 6 periode berturut-turut. Sungguh rakyat tidak pernah tahu bagaimana regulasi dan mekanisme pemilihan presiden selama 6 periode tersebut karena pemilihan presiden dilaksanakan di tingkat parlemen dan bersifat elitis. Bukankah MPR adalah lembaga tertinggi Negara dan merupakan manifestasi perwakilan rakyat, jadi kalaupun pemilihan presiden tersebut dilaksanakan oleh anggota DPR-MPR bukankah itu merupakan cerminan dari kehendak rakyat? Selama 32 tahun kita hidup dalam logika yang demikian itu. Selama 32 tahun praktik berdemokrasi ala Soeharto begitu lekat dengan rakyat Indonesia hingga akhirnya rakyat lupa akan hak-haknya di wilayah politik, hukum, Budaya, ekonomi, pendidikan, kesehatan seperti yang termaktub di dalam UUD 1945.

Pemilihan Umum (singakatan ORde BAru: PEMILU) 1999 pun tiba, langkah Megawati Soekarno Putri menuju Singgasana Kepresidenan terjegal oleh kelompok yang menamai dirinya poros tengah yang dikomandoi oleh Amien Rais (Katanya sih Bapak Reformasi), Megawati yang mendapatkan simpati massa akibat tekanan dari penguasa dan massa pro Soerjadi pada tahun 1996 Dengan PDI Perjuangannya b erhasil mengumpulkan suara terbanyak dalam pemilihan umum 1999, tapi langkahnya menuju singgasana kepresidenan harus tertunda karena yang berhasil mendudukinya adalah Abdurrahman Wahid, Sementara Megawati hanya berhasil menjadi wapres. Tapi akhirnya Gus Dur pun harus tergusur dari kursi empuknya. Megawati pun secara otomatis naik menjadi Presiden setelah menunggu selama 3 tahun. Karena trauma dengan kenyataan pahit pada pemilu 1999, Megawati pun mulai membuat movement-movement politik. Agaknya Megawati ingin mendapatkan simpati pemuda revolusioner, hal ini dapat dilihat melalui pembebasan Tapol semacam Budiman Sudjatmiko, Garda Sembiring, Dita Indah Sari dan pembersihan nama mantan anggota PKI serta pembelian pesawat tempur Sukhoi dari Rusia. Lalu, movement politiknya Megawati memunculkan wacana pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat. Megawati cukup percaya diri dengan popularitasnya di tingkat massa akar rumput, tapi apa yang terjadi? Megawati kembali gagal, kali ini yang menggagalkan ambisinya adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Agaknya lagu Iwan Fals yang liriknya berbunyi “Tak peduli perwira, Bintara atau Tamtama, serdadu, tetap sedadu,” tidak hanya berlaku bagi tentara tapi bagi penguasa juga. Semua penguasa tetap sama. Jauh-jauh hari sebelum pemilu 2009 lembaga penyelenggara Pemilu menetapkan Electoral Threshold dan parliamentanyary Threshold (jujur, sebenernya aku gak mudeng artinya ini apa) dan persyaratan 25 % persen perolehan suara bagi partai yang berhak mengajukan pasangan capres-cawapres. Syarat-syarat ini mungkin terlalu berat untuk dipenuhi oleh partai politik karena harus bertarung dengan 43 partai lainnya. Bila melihat kondisi sekarang ini, Selain Partai Demokrat (PD) belum ada parpol yang berhasil mengumpulkan suara sebanyak 25 persen itu. Artinya apa? Artinya adalah, mungkin hanya akan ada satu pasangan tunggal yang berhak maju dalam pemilihan pilpres mendatang. Inilah wacana yang kemudian muncul setelah melihat hasil perolehan sementara yang dikeluarkan oleh KPU. Wacana ini tak pernah terpikirkan (sebenarnya sih terpikirkan oleh mereka) untuk diantisipasi sebelumnya karena baik di dalam UUD 1945 maupun UU Pilpres hanya mengatur tentang pemilihan Presiden yang diikuti oleh minimal dua (2) pasangan capres-cawapres.
Tentu saja wacana tentang calon tunggal ini akan mengundang polemic yang berkepanjangan dan tidak akan pernah mencapai kata sepakat dari partai-partai peserta pemilu. Bila situasi tersebut terjadi, maka akan ada kekosongan kekuasaan. Tentu saja situasi ini tidak boleh terjadi. Tidak boleh ada kekosongan kekuasaan satu detikpun. Mempertimbangkan kondisi tersebut, maka bila wacana pasangan tunggal tersebut tidak bisa diterima oleh Lembaga Penyelenggara Pemilu (KPU) maka telah terpenuhi sebuah prasyarat konstitusional tentang kegentingan yang memaksa yang diisyaratkan UUD 1945 untuk dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu).

Entah disengaja atau tidak, tapi persyaratan-persyaratan yang ditetapkan dan harus dipenuhi oleh sebuah partai politik agar dapat mengajukan calon di pilpres mendatang, nyata-nyata menguntungkan penguasa. Karena, celah ini bisa dimanfaatkan untuk melegalisasi wacana pasangan (calon) tunggal dalam pilpres 2009 melalui perppu tersebut. Tapi, mari kita berharap, semoga saja kewenangan penguasa (baca presiden) untuk mengeluarkan perppu dipakai bukan untuk melegalisasi pasangan tunggal tersebut, tetapi dipakai untuk merevisi UU Pilpres itu sendiri, misalnya, semua parpol yang lolos dan memenuhi Parliamentary Threshold diperbolehkan untuk mengajukan pasangan capres-cawapres.

Kamis, 23 April 2009

diatas ranjang jaman, yang kuberi nama waktu, kurebahkan sejuta puisi yang kuhidupi dengan hembusan nafas seribu dewa yang kutawan di penjara kata. puisiku tersayat, terajang, tercabik-cabik berserakan oleh keangkuhan tatapmu yang kau namai cinta. seekor binatang melata menjulurkan lidah yang bercabang dua menari atas kepalamu, aku namai itu kelicikan tapi kau menamainya kasih sayang, ah..... kasih sayang yang menipu kataku.
Mengapa sepedih ini? lebih pedih dari sayatan silet di kulit wajah para jenderal di lubang buaya yang sampai sekarang tak jelas siapa pelakunya. puisiku terjerang hingga melampaui titik didih, kau rebus baur dengan segala kecurangan angin kemarau yang berat dan kering, membawa-bawa debu mengotori mata hatiku hingga yang bisa kulihat hanyalah kekotoran yang itu-itu juga.
Di utara musim semi mulai menumbuhkan pucuk-pucuk muda daun pohon willow, kembang-kembang yang menggigil semasa butir-butir salju berguguran menutupi ranting-ranting kecil yang gemetaran kini mulai bersemi, merekah menebar jutaan aroma yang tak terdeskripsikan, hanya indera penciuman yang mampu menjabarkan segala macam bau-bauan yang lewat melalui sistem sensornya. tapi puisiku tetap terebus bersama debu dan kotoran yang sengaja kau tebarkan di atas masakan yang rasanya pasti sudah tidak enak lagi.
Lelahnya, aku harus berpura-pura hitam ketika kau hitam dan berlagak suci ketika kau berubah putih, perubahan yang sama sekali tak pernah kuharapkan dan kuinginkan, tapi atas nama cinta kau bebas membuat semuanya ternoda dan mengendarai hati, jiwa dan pikiranku ke tempat parkir yang kau kehendaki.
Di sinilah aku sekarang, di atas ketinggian kata-kata jiwa yang selama ini terbungkam paksa. lalu sejuta puisiku jaga dari tidurnya yang sebenarnya tidak nyenyak dan dia berkata kepadaku Padove ti puerta il cuero, pergilah ke mana hati membawamu.

Senin, 13 April 2009

Senja Jingga di Atas Langit Jakarta


Senja jingga memerah saga
Menyemburat, bentuk rupa-rupa
Tak cukup sejuta sajak dituliskan
Mengenang mereka yang terlumpuhkan paksa

Senja jingga di atas langit Jakarta
Satu cita-cita, satu Indonesia
Satu jiwa, satu Bangsa
Senja jingga mengelam dalam kepulan asap bakaran ban bekas
Senja jingga mengelam dalam serbuan gas air mata
Yang terhadang meradang
Yang tertembak tak sempat mengerang
Tangan kiri terkepal di dada
Seakan berkata, “Aku cinta Indonesia”

Senja jingga memerah saga
Kita punya cita-cita
Satu Indonesia, tetap merdeka
Tak ada tirani, tak ada tangan besi
Satu jiwa, satu Bangsa
Tak ada senjata terarah pada anak negeri

Senja jingga di atas langit Jakarta
Hiruk-pikuk peristiwa tercecer di kolom surat kabar
Semacam cerita pelengkap secangkir kopi di minggu pagi
Wahai…
Betapa laju menit berlari menyelinap ke dalam pedalaman lupa
Seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan
Seakan tak pernah ada dalam penanggalan
Hilang meruap serupa angin
Seperti pemuda yang belum dipulangkan
Betapa laju menit berlari menyelinap kedalam pedalaman lupa
Seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan
Tak ada lagi dalam penanggalan
Tak ada lagi dalam kenangan
Hanya senja jingga di atas langit Jakarta yang semakin kelam
Mengepul dalam asap bakaran ban bekas
Membias dalam serbuan gas air mata
Sisanya hanyalah luka sejarah yang tetap nganga
Bagi mereka yang tahu arti titik darah dan air mata

Senja jingga di atas langit Jakarta
Menyemburat, membentuk rupa-rupa
Betapa laju menit berlari menyelinap kedalam pedalaman lupa

Kamis, 19 Maret 2009

Di bagian pertama dari tulisan ini telah dipaparkan secara garis besar tentang Pemilu yang ternyata belum dapat menjadi sebuah pijakan awal bagi terbangunnya sebuah kondisi kultural munculnya seorang pemimpin yang benar-benar disetujui oleh mayoritas rakyat. di bagian ini akan kita kupas lebih dalam tentang mengapa pemilu selama ini gagal menghasilkan pemimpin yang disepakati oleh mayoritas rakyat Indonesia.
Dijaman ORde BAru, wacana soal calon presiden selalu sepi dari pemberitaan karena hampir selalu hanya ada calon tunggal. Memang, sempat beberapa kali ada pahlawan kesiangan yang sok aksi, demi gagah-gagahan atau demi legalitas kekuasaan Soeharto ada yang mencalonkan diri menjadi presiden. Boleh jadi para calon yang mencalonkan diri sebagai presiden tersebut memang berniat serius untuk bertarung dengan Soeharto, tapi di tingkat massa rakyat pencalonan itu hanyalah rekayasa penguasa belaka, karena selalu saja Soeharto yang memenangkan pertarungan tersebut. Pencalonan beberapa orang seperti yang telah ditulis di atas hanyalah sebagai topeng bagi penguasa agar pemilihan presiden yang dilakukan di tingkat DPR-MPR terkesan murni dan dilaksanakan berdasarkan asas Demokrasi. Pada masa ORde BAru, pemilihan Presiden dilakukan oleh para wakil rakyat yang duduk di gedung dewan yang terhormat, kita tahu, mayoritas anggota legislatif adalah orang Golkar, hanya segelintir yang berasal dari PDI dan PPP itupun belum dihitung anggota dewan dari PDI dan PPP yang membelot atau seide dengan anggota dewan mayoritas. Rakyat tidak pernah tahu bagaimana mekanisme pemilihan Presiden tersebut dijalankan oleh dewan legislatif. Apakah mekanisme pemilihannya secara aklamasi, voting, musyawarah atau mekanisme yang lain. bila mekanisme pemilihan yang dijalankan adalah mekanisme voting, apakah kemudian prinsip mekanisme voting tersebut one parti one vote atau one man one vote? bila yang dipilih adalah prinsip one man one vote maka menjadi wajar kalau kemudian Soeharto selalu berhasil memenangkan pemilihan presiden di tingkat DPR-MPR. Rakyat tidak pernah tahu mekanisme apa yang diambil dalam menentukan keputusan yang sangat vital bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Artinya adalah, sekian lama kehendak rakyat diingkari oleh para wakil yang mereka pilih sendiri dan mereka percayai sebagai corong untuk menyuarakan kehendak mereka.
Pemilihan umum 2004 pun tiba, rakyat tidak hanya memilih para wakil yang akan duduk di gedung dewan, tapi untuk pertama kali mereka juga harus memilih Presiden dan Wakil Presiden mereka sendiri. Banyak yang berharap bahwa roda demokrasi sedang menggelinding ke arah yang lebih baik. memang benar dan harus kita akui bahwa praktik demokrasi setingkat lebih baik dari pemilu-pemilu sebelumnya. tapi kita juga harus mengakui bahwa praktik demokrasi yang sedang kita jalankan ini belumlah sempurna. Hampir setiap kali pemilu para petinggi partai sibuk kesana-kemari, konsolidasi kiri-kanan untuk berkoalisi dengan partai-partai lain baik yang segaris, seide, sealiran (satu ideologi) maupun yang berlainan sama sekali ideologinya. Kalau memang harus berkoalisi untuk menggalang kekuatan yang lebih besar, kenapa tidak digabungkan saja partainya? Mengapa harus ada demikian banyak partai? itu kan pemborosan namanya, pemborosan anggaran pemilu karena begitu banyak partai sehingga ukuran kertas suara pun menjadi boros, gambar-gambar partia politik, itu kan banyak makan tinta cetak, belum lagi anggaran yang harus dikeluarkan negara untuk menyelenggarakan pemilu (dengar-dengar anggaran untuk pemilu 2009 memakan dana 7,2 T) 7,2 T itu tujuh ribu dua ratus milyard rupiah. Kalau mau tahu angka jutanya kalikan saja angka tujuh ribu dua ratus itu dengan angka seribu (wah, uang sebanyak itu kalau buat beli kerupuk dapat berapa kapal ya). Bayangkan bila semua partai yang berkoalisi tersebut digabung menjadi satu partai saja, mungkin dalam pemilu depan kita hanya akan memiliki tujuh sampai sepuluh partai politik saja.
Praktik koalisi antara beberapa partai belumlah begitu parah, meskipun jelas-jelas negara harus mengeluarkan uang lebih banyak akibat begitu banyaknya partai politik padahal toh harus berkoalisi juga, yang paling gawat adalah praktik loby yang dijalankan oleh para elit di tingkat atas. mereka seakan-akan berhak untuk memindahtangankan suara yang diberikan oleh massa pemilih, padahal prinsipnya kan seharusnya suara yang diberikan oleh pemilih itu bersifat tetap, tak tergantikan, tak terwakilkan dan tidak bisa dipindah tangankan. tidak perlu koalisi-koalisian, tidak perlu loby-loby an. Berapapun Jumlah suara yang didapat oleh seorang calon presiden, bila itu suara terbanyak dialah yang akan duduk sebagai presiden. Dengan begitu legalitas, keabsahan dan kemurnian hasil pemilu benar-benar bisa dipertanggungjawabkan dan bukan hanya sekedar data-data statistik belaka. Rakyat harus tahu mekanisme yang jelas tentang pemilihan presiden, quota suara, Koalisi beberapa partai dan pengalihan suara, loby-loby di tingkat elit hanya membingungkan rakyat belaka. Biarlah semua berjalan apa adanya, tanpa rekayasa, maka apa yang kita harapkan melalui pemilu akan segera tercapai dan bila ada kegagalan nantinya, maka kegagalan tersebut adalah kegagalan kita bersama dan harus kita pertanggungjawabkan secara bersama-sama pula. Dengan begitu pencederaan atas kepercayaan rakyat pada lembaga pemilu yang dilakukan oleh para elit politik tidak akan pernah terjadi lagi.

Senin, 16 Maret 2009

Catatan Seputar Pemilu

Kelahiran seorang pemimpin secara kultural sangat dipengaruhi oleh situasi jaman. Sejarah revolusi Perancis yang meletus pada pertengahan abad-18 merupakan peristiwa sejarah yang tidak boleh dilupakan. Kekuasaan raja yang tidak terbatas , tanpa sistem kontrol serta berpusat pada satu tangan telah mengakibatkan penderitaan yang gila-gilaan di tingkat massa rakyat. Kemiskinan dan kemelaratan yang menjamur diseluruh negeri tersebut akhirnya menimbulkan perlawanan yang semakin lama semakin resistant di tingkat massa rakyat. Perlawanan rakyat tersebut akhirnya mampu menyeret sang penguasa ke tiang penggantungan. Peristiwa yang sangat terkenal itu merupakan cikal bakal permunculan sistem demokrasi yang dipelopori oleh Robespiere. Revolusi tersebut mampu menumbangkan sistem pemerintahan yang bersifat Absolute Monarchy dan menggantinya dengan konsep baru sehingga berdirilah Negara Perancis yang berbentuk Republik.
Revolusi Perancis mampu memunculkan sebuah sistem pemerintahan baru yang dibelakangan hari kita sebut sebagai demokrasi. Coba kita komparasikan dengan peristiwa 1998. Mengapa Reformasi 1998 tidak menghasilkan apa-apa? Ada sebuah kesalahan fatal yang terjadi di sini. Reformasi 1998 sama sekali tidak menghasilkan apa-apa karena peristiwa reformasi 1998 gagal melahirkan pemimpin yang disepakati oleh sebagian besar rakyat Indonesia karena suksesi yang tidak sempurna. Benar bahwa Reformasi 1998 mampu menggulingkan Presiden Soeharto dari singgasana kepresidenan, akan tetapi tahta itu kemudian diwarisi oleh B.J Habibie murid sekaligus pengikut Soeharto yang paling loyal, dan kesalahan terbesar justru terletak pada diri pelaku Reformasi itu sendiri. Pelaku reformasi 1998 tidak memiliki konsep atau gagasan yang jelas, yang dapat memberikan solusi politik, ekonomi, sosial, budaya dan hukum. Platform reformasi yang diusung tidak jelas, tidak ada sistem yang ditawarkan, larut dalam euphoria atas lengsernya presiden Soeharto. Menjadi wajar kalau kemudian peristiwa reformasi 1998 tidak mampu menghasilkan seorang pemimpin yang memiliki otoritas yang menjadi panutan bangsa ini. Peristiwa Reformasi 1998 hanya menghasilkan pemimpin gadungan, advonturir dan oportunis yang pintar memanfaatkan celah untuk mencari popularitas.
Pemilihan Umum (singakatan ORde BAru: PEMILU) 2004 adalah sebuah pijakan awal bagi kebangkitan negeri ini. Untuk pertama kalinya massa rakyat diberikan kesempatan untuk memilih presidennya sendiri. Susilo Bambang Yudhoyono (karena budaya singkat menyingkat ORde BAru belum bisa dihilangkan maka kemudian disingkat menjadi SBY) Akhirnya marak menjadi Presiden Republik tercinta ini. Apakah kemudian Presiden SBY berhasil menjadi seorang pemimpin yang disepakati oleh sebagian besar rakyat? Sulit untuk menjawab pertanyaan itu secara langsung. Tapi, marilah kita sejenak berputar-putar untuk menemukan jawabannya. Dulu, di jaman ORde BAru, Golkar (yang saat itu tidak mau disebut sebagai partai) selalu berhasil memenangkan PEMILU (Singkatan ciptaan ORde BAru) dan menduduki sebagian besar kursi DPR-MPR selalu berhasil mendudukkan Soeharto menjadi Presiden, sehingga menjadi sebuah rahasia umum bahwa partai politik yang memenangkan pemilu secara otomatis akan mendudukkan calonnya di singgasana kepresidenan. Tiga puluh dua tahun kondisi ini berjalan dengan mulus sehingga pada Pemilu 1999 massa rakyat di tingkat bawah begitu shock dengan apa yang terjadi. PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri keluar sebagai pengumpul suara terbanyak tetapi tidak berhasil secara otomatis mendudukkan Megawati sebagai Presiden. Loby-loby politik di tingkatan elit, koalisi dari beberapa partai akhirnya mengangkat Abdurahman Wahid (Gus Dur) dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menjadi Presiden Ke-3 Republik ini. Betapa Shock massa Megawati menerima kenyataan baru ini karena menurut kacamata mereka bahwa partai pemenang pemilu secara otomatis akan duduk menjadi presiden seperti yang terjadi selama 32 tahun ini. Kenyataan tersebut sedikit mengikis kepercayaan massa rakyat terhadap lembaga pemilu.
Pemilihan umum 2004 pun tiba, untuk pertama kalinya rakyat memilih sendiri presidennya. Kepercayaan rakyat terhadap lembaga pemilu kembali pulih. Terbertik sebuhah harapan, semoga kali ini pemilu mampu melahirkan seorang pemimpin yang dikehendaki oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Massa rakyat berbondong-bondong mendatangi tempat pemungutan suara dengan sebuah harapan besar menggantung di dadanya. Kembali loby-loby di tingkatan elit bermain dan koalisi antara beberapa partai mengotori lajunya roda demokrasi, mencederai kepercayaan rakyat terhadap lembaga pemilu. Ketidak percayaan rakyat terhadap lembaga pemilu menjadi lebih parah dari sebelumnya. Massa rakyat menjadi apatis, karena logika massa di tingkat akar rumput, apa yang mereka pilih adalah yang terbaik buat mereka, dan suara yang mereka berikan bersifat tidak tergantikan dan tidak terwakilkan. Belakangan hari, setelah pemungutan suara selesai barulah mereka sadar, bahwa suara yang mereka berikan bisa dipindah tangankan dan diputarbalikkan seenaknya oleh pemain politik di tingkat elit melalui loby-loby dan koalisi beberapa partai.
Kepercayaan massa di tingkat akar rumput semakin tercederai oleh sistem dan mekanisme pemungutan suara itu sendiri karena sistem dan mekanisme pemungutan suara diatur oleh penguasa yang sedang berkuasa, sehingga segala regulasi maupun peraturan yang dikeluarkan sedikit banyaknya menguntungkan mereka karena mereka dapat menyingkirkan lawan-lawan politik yang berpotensi menganggu gugat kelanggengan kekuasaan mereka. Dalam bahasa sederhananya, mereka berhak membuat peraturan ataupun kriteria-kriteria apa saja yang harus dipenuhi oleh sebuah partai politik agar mereka layak mengikuti pemilu. Itulah sebabnya setiap kali pemilu akan muncul aturan-aturan dan persyaratan-persyaratan baru. Tidak bisakah kalau misalnya dirancang sebuah perundang-undangan yang fix (tetap) tak berubah-ubah dan tidak bisa dibelokkan dengan semena-mena oleh penguasa?
Pencederaan atas kepercayaan rakyat yang dilakukan oleh para elit politik melalui loby-loby di tingkat elit dan koalisi antara beberapa partai (yang jelas-jelas ideologinya berbeda), peraturan dan sistem pemilu yang dirancang oleh penguasa yang sedang berkuasa yang sedikit banyak menguntungkan mereka dan di sisi lain berperan untuk menyingkirkan lawan-lawan politik mereka yang berpotensi untuk mengganggu kelangsungan kekuasaan mereka. Semua kenyataan tersebut membuat massa rakyat menjadi semakin apatis dengan lembaga pemilu, berkembang sebuah pemikiran di tingkat massa akar rumput bahwa, suara yang mereka berikan tidak mempunyai arti apa-apa dan perubahan yang mereka harapkan melalui pemilu hanyalah dongengan belaka. Sistem dan mekanisme pemungutan suara hanyalah formalitas belaka (kalau tidak bisa dikatakan justifikasi kekuasaan belaka), Public Election (pemilihan umum) hanyalah sebuah pesta yang berbiaya milyaran rupiah. Sementara para pelakunya tidak pernah memikirkan apapun untuk rakyat (kalau berpikir saja sudah tidak, mana mungkin melakukan sesuatu untuk rakyat). Sebagian lagi mulai bermain kritis-kritisan, kalau memang para pelaku pemilu tersebut benar-benar berpihak kepada rakyat, ke mana saja mereka selama ini? Di mana mereka ketika rakyat berkeluh kesah tentang biaya hidup yang mahal, tentang rumah sakit yang menolak pasien miskin untuk berobat, ketika mereka berkeluh kesah tentang mahalnya biaya pendidikan di sebuah Negeri yang bernama Indonesia ini. Sekarang tiba-tiba saja mereka muncul dengan janji membela kepentingan rakyat, memperjuangkan nasib rakyat, berpihak terhadap rakyat. Kemana saja mereka selama ini? Ada sebagian yang lebih kritis lagi. Golongan ini mulai bertanya, kalau memang para pelaku pemilu tersebut memang berpihak kepada rakyat, kami mau bertanya rakyat yang mana yang mereka bela? Apakah mereka akan berpihak kepada rakyat yang dengan seenaknya menggusur pedagang kaki lima demi keindahan kota, padahal pedagang kaki lima tersebut menjadi pedagang kaki lima karena ketidakmampuan pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan kepada mereka. Apakah mereka akan berpihak kepada rakyat yang dengan seenaknya membakar kios-kios pedagang di pasar-pasar tradisional karena pusat-pusat perbelanjaan modern (Plaza, mall, supermarket) membayar pajak untuk setiap potong produk yang mereka jual sedangkan pedagang tradisional hanya membayar restribusi? Apakah mereka akan berpihak kepada rakyat yang dengan seenaknya menebangi hutan Negara tidak saja untuk dijual kayunya, tetapi kemudian menjual tanahnya kepada pihak swasta/asing untuk kemudian dijadikan lapangan golf dan hotel berbintang?
Praktik-praktik pencederaan terhadap demokrasi dan kepercayaan rakyat yang dijalankan oleh para pemain politik di tingkat elit selama ini telah membuat massa di tingkat akar rumput menjadi apatis dan alergi dengan segala sesuatu yang berkenaan dengan politik, sehingga sebagian besar dari mereka datang ke bilik pemungutan suara hanya karena mereka diupah, artinya mereka mau memberikan suaranya hanya karena mereka telah menerima imbalan berupa uang, pakaian, dan makanan oleh salah satu partai politik tertentu dan atau calon anggota legislatif. Mereka sadar bahwa sesungguhnya mereka sedang mempertaruhkan masa depan mereka, tidak hanya untuk lima tahun ke depan, mereka sangat sadar dengan kondisi tersebut. Tetapi mereka sudah terlanjur apatis,. Toh lembaga pemilihan umum tidak pernah berhasil menghasilkan seorang pemimpin yang benar-benar disepakati oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Transparansi dan keabsahan (legalitas) hasil pemilu hanyalah sebuah data-data statistik belaka, bukan hasil yang sebenarnya, karena hasil yang sebenarnya telah tercederai oleh praktik loby-loby di tingkat elit dan koalisi antara beberapa partai yang menurut lembaga pemilu dan para pelakunya adalah sebuah kewajaran.
Apakah loby-loby politik di tingkat elit dan koalisi antara beberapa partai politik tersebut adalah sebuah hal yang wajar? Mari kita kupas hal ini lebih dalam lagi, saya tidak berhak mengatakan ‘tidak’ atau ‘ya’. Biarlah kita yang menjawabnya bersama-sama. Negara Ini bernama Republik Indonesia (RI). Artinya, kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat, lembaga tertinggi Negara dalam hal ini Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) hanyalah sebagai mandataris (pemegang mandat) belaka. Segala kebijakan politik eksekutif (eksekusi, pembuat keputusan, presiden) sebelum diundangkan terlebih dahulu harus disampaikan oleh legislatif kepada rakyat yang mereka wakili, baru setelah mendapat persetujuan dari sebagian besar rakyat kebijakan (policy) tersebut di legalisir oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk kemudian diundangkan oleh eksekutif. Apakah selama ini massa rakyat dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan? Tidak. Alasannya karena suara rakyat sudah terwakili oleh suara dewan legislatif sebagai perpanjangan lidah rakyat. Hingga kemudian logika tersebut dibawa ke tingkat pemilihan umum, loby-loby politik dan koalisi antara beberapa partai yang kemudian mereka anggap sebagai sebuah kewajaran itu terus-menerus dipraktikkan sampai pada tingkat yang paling parah. Suara rakyat yang seharusnya tidak bisa dipindahtangankan, tidak tergantikan, dan tidak dapat diwakilkan tersebut diperkosa sedemikian rupa demi menggoalkan seorang calon presiden menjadi presiden. Tidak pernah elit-elit politik bertanya terlebih dahulu kepada massa pemilihnya apakah mereka setuju bila suara yang mereka berikan dialihkan pada seorang calon presiden atau tidak. Massa pemilih dikondisikan hanya sebuah obyek yang tidak mengetahui apa-apa, massa pemilih hanya dianggap sebagai sapi perahan penghasil suara yang dapat mereka beli setiap lima tahun sekali.
Dalam hal ini, menurut apa yang telah dipaparkan di atas, sesungguhnya partai politik dan anggota legislatif yang duduk di gedung dewan sama sekali tidak berhak memindahtangankan suara yang telah diberikan oleh massa rakyat dengan alasan apapun juga. Bila kita sudah sampai pada tahap ini, maka kelahiran seorang pemimpin yang benar-benar disepakati oleh mayoritas rakyat Indonesia melalui lembaga pemilu niscaya akan menjadi kenyataan. Bila kita sudah sampai pada tingkat kesadaran bahwa suara yang diberikan oleh massa rakyat melalui Pemilu tidak dapat dipindahtangankan, tidak terwakilkan dan tidak tergantikan melalui loby-loby di tingkat elit dan koalisi antara beberapa partai, bila kita sudah sampai pada tingkat kesadaran yang memposisikan massa pemilih sebagai subyek penggerak dan penentu arah demokrasi, bukan sekedar sapi perahan penghasil suara lima tahunan , niscaya akan lahir seorang pemimpin yang disepakati oleh mayoritas rakyat Indonesia yang bekerja untuk dan di dalam pengawasan rakyat sehingga fungsi kontrol legislatif benar-benar berfungsi sebagai penyambung lidah rakyat.
Tulisan ini dibuat tidak untuk mengajak massa rakyat untuk memboikot pemilu, bukan pula untuk mengajak bergolput ria. Tulisan ini dibuat untuk mengajak kita sama-sama berpikir demi kemajuan negeri kita tercinta ini. Menarik untuk dicermati, ke arah mana roda demokrasi menggelinding di pemilihan umum 2009 ini, apakah ke arah perbaikan atau kemunduran. Tapi apapun nanti hasilnya, ke manapun roda demokrasi menggelinding tak perlu pesimis. Toh semua kesalahan itu nantinya bila dievaluasi akan membawa kita selangkah lebih dekat ke arah perubahan. Semoga pemilu 2009 ini bisa menjadi pijakan awal terciptanya kultur berpolitik yang baru, yang lebih sehat, terarah, tepat sasaran dan murni, yang benar-benar mencerminkan kehendak massa rakyat di tingkat akar rumput, bukan mencerminkan kehendak para elit politik di tingkat atas.